Ferry Efendi

Berbagi, Peduli dan Menginspirasi

Ujian P3N Keperawatan Kesehatan Komunitas

11 August 2017 - dalam Praktik Profesi Ners Keperawatan Kesehatan Komunitas Oleh ferry-efendi-fkp

Buatlah ringkasan dari kegiatan Anda di masing-masing Pokja selama P3N komunitas. Mohon dijelaskan sedetail mungkin aktivitas yang Anda lakukan dengan format sebagai berikut:

Nama mahasiswa:

 

NIM:

 

Pokja:

 

Latar Belakang: minimal 250 kata

 

Program Pokja: min 250 kata

 

Analisis kelebihan dan kekurangan program: min 250 kata

 

Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan Pokja:



Read More | Respon : 9 komentar

9 Komentar

Meviana Dwi Ariyani

pada : 15 August 2017


"UJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Nama mahasiswa: Meviana Dwi Ariyani
NIM: 131613143006
Pokja:
A. Pokja KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
B. Pokja Remaja
C. Pokja Lansia
D. Pokja Kesehatan Lingkungan

1. Latar Belakang
Keperawatan kesehatan masyarakat pada dasarnya adalah pelayanan keperawatan profesional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada kelompok berisiko tinggi. Upaya pencapaian derajat kesehatan optimal dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) di semua tingkat pencegahan (levels of prevention) dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang di butuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan (Depkes, 2006). Berdasarkan hasil pengkajian dan focus group discussion (FGD) mini loka karya awal yang telah dilakukan dengan warga RT 03, RT 04, dan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan semampir didapatkan beberapa masalah kesehatan 4 Program Kerja KIA/KB, Remaja, Lansia dan Kesehatan Lingkungan yaitu antara lain : Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ditemukan masalah rendahnya kesadaran warga tentang pentingnya ASI eksklusif dan belum adanya pemantauan terhadap perkembangan anak. Program Remaja ditemukan masalah kurangnya kesadaran mengenai dampak rokok dan belum adanya kegiatan Karang Taruna yang berhubungan dengan kesehatan. Program Lansia ditemukan masalah belum terbentuknya posyandu lansia dan tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan kelompok lansia. Program Kesehatan lingkungan di RW VIII ditemukan masalah belum adanya kegiatan untuk pengelolaan sampah dan terhentinya kegiatan kerja bakti.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 didapatkan data pada ibu hamil ditemukan keluhan hipertensi 33,3%, perdarahan 33,3%, cakupan penggunaan KB 62,5%, sedangkan 70% sudah memiliki buku KIA dan angka ASI eksklusif sebesar 30%. Berdasarkan hasil FGD dengan kader Posyandu Balita RT 03, RT 04 dan RT 05 menjelaskan bahwa angka pemberian ASI eksklusif masih rendah dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 orang. Pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%). Berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII kegiatan posyandu lansia belum ada di RW VIII, setelah dilakukan door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia. Hasil pengkajian awal mengenai kesehatan lingkungan didapatkan data pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah kemudian diangkut oleh petugas, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan. Pembuangan air limbah sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai. Sungai sebelah utara sepanjang RT 03, RT 04, dan RT 05 tampak kotor, air sungai berwarna hitam. Kegiatan kerja bakti juga sempat terhenti.
Kondisi atau fakta tersebut di atas kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya disebabkan karena penduduk memiliki keterbatasan ekonomi, kurangnya kesadaran dan kepedulian, kurangnya pengetahuan masyarakat di sekitarnya serta dampaknya terhadap kesehatan. Setelah ditemukan masalah dari 4 Program Kerja, tahap selanjutnya menganalisis masalah setiap Program Kerja kemudian menentukan rencana dan strategi untuk menyelesaikan masalah. Rencana dan strategi program KIA akan melakukan kegiatan demonstrasi cara memerah ASI, cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui, dan Skrining tentang tumbuh kembang anak. Program Remaja akan melakukan Pelatihan Pertolongan Pertama pada Cidera Olahraga dan Penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok. Program Lansia akan melakukan kegiatan Pembentukan kader, skrining kesehatan dan senam lansia. Program Kesehatan Lingkungan akan melakukan kegiatan kerja bakti dan perintisan bank sampah.



2. Program Pokja
POKJA KIA
1) Demonstrasi cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui
Kegiatan dilakukan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 jam 18.00 WIB sebelum acara arisan ibu-ibu dasawisma di salah satu rumah warga RT 04 yang merupakan salah satu kader posyandu. Kegiatan diikuti sejumlah 30 peserta ibu-ibu dan dimulai dengan menggali pengetahuan peserta tentang cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI, menjelaskan cara memerah dan menyimpan ASI, dan menjelaskan nutrisi yang baik untuk ibu menyusui. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi observer. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari demonstrasi didapatkan pengetahuan ibu-ibu bertambah ditunjukkan dengan kemampuan ibu-ibu dalam menjawab pertanyaan saat dievaluasi.
2) Skrining tentang tumbuh kembang anak
Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 09.00 WIB di Paud Dian Ceria di RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 12 anak usia 4-6 tahun dan dimulai dengan perkenalan, pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan kuisioner DENVER II dan ditutup dengan foto bersama. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemeriksa tumbuh kembang anak dengan menggunakan kuisioner DENVER II. Hasil dari skrining didapatkan 3 anak dengan suspect keterlambatan tumbuh kembang dan 1 untestable. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemeriksa tumbuh kembang anak dengan menggunakan kuisioner DENVER II.

POKJA REMAJA
1) Pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 15.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah ± 30 peserta karang taruna dan dimulai dengan memberikan materi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, simulasi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator kelompok kecil pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dengan metode RICE. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana pertolongan pertama pada cidera olahraga.
2) Penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 21.00 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang perwakilan dari karang taruna RT 03 dan RT 04 dan anggota perkumpulan “Arek Kali Londo” dan dimulai dengan pemaparan materi tentang bahaya merokok, tanya jawab, dan evaluasi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi observer. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana cara berhenti merokok yang membutuhkan usaha dan tekad yang kuat dari diri sendiri.
POKJA LANSIA
1) Pembentukan kader dan sosialisasi
Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 18.30 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang calon kader lansia dari RT 03 dan RT 05 dan dimulai dengan pemaparan hasil temuan yang didapatkan dari data pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa, penyampaian sosialisasi pembuatan posyandu lansia, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi observer. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pembentukan kader dan sosialisasi pembentukan posyandu lansia adalah persetujuan dari calon ibu-ibu kader posyandu lansia dan pemahaman bertambah tentang pelaksanaan program posyandu lansia.
2) Senam lansia dan pemeriksaan kesehatan
Kegiatan dilakukan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 jam 06.00 WIB di lapangan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 37 warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05 dibantu oleh para kader posyandu lansia. Acara dimulai dengan senam lansia : senam stroke dan diabetes mellitus yang dipandu oleh mahasiswa, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan. Meja 1 tempat pendaftaran, meja 2 pemeriksaan tekanan darah, meja 3 pemeriksaan asam urat, meja 4 konsultasi, dan meja 5 pemberian nutrisi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi bagian publikasi dan dokumentasi. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan senam lansia dan pemeriksaan kesehatan adalah membantu para lansia untuk meningkatkan kebugaran dan mencegah masalah kesehatan khususnya pada lansia dengan peningkatan kadar asam urat.
POKJA KESEHATAN LINGKUNGAN
1) Kerja bakti
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli, 30 Juli, dan 13 Agustus 2017 (RT 04) jam 07.00 WIB di balai masing- masing RT, RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti oleh warga RT 03, RT 04, dan RT 05. Kerja bakti pertama dilaksanakan tanggal 23 Juli 2017 di lingkungan RT 03. Lokasi kerja bakti di samping balai RT 03 dengan membersihkan halaman dan meratakan tanah lapangan. Kerja bakti kedua 30 Juli 2017 di bagi menjadi 2 tempat yaitu di lingkungan RT 03 dan RT 05 dengan mengecat pagar pembatas dan mendirikan umbul-umbul dalam rangka hari kemerdekaan. Kerja bakti ketiga pada tanggal 13 Agustus 2017 di lingkungan RT 04 dengan membersihkan tanaman liar di wilayah tangkis, mengecat pembatas, dan merapikan balai RT. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi penanggung jawab acara. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan kerja bakti adalah lingkungan menjadi lebih bersih dan rapi sehingga masalah kesehatan lingkungan dapat dicegah.
2) Perintisan bank sampah
Kegiatan dilakukan dengan 3 tahap. Pertama dilaksanakan sosialisasi awal perintisan bank sampah pada hari Minggu, 23 Juli 2017 dimulai jam 18.30 di Gang 12 RT 05 RW VIII dan jam 19.30 di Gang 4 RT 04 RWVIII. Kegiatan bekerja sama dengan pihak BSIS diikuti oleh Warga di RT 03, RT 04 dan RT 05 RW VIII kel. Medokan Semampir. Acara dimulai dengan penyampaian materi tentang bank sampah bekerja sama dengan pihak BSIS, tanya Jawab tentang perintisan bank sampah, berbagi cerita dengan para pengurus bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02 mengenai perintisan bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02. Tahap kedua dilaksanakan FGD pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 19.00 WIB untuk membahas kelanjutan respon warga untuk perintisan bank sampah. Hasil dari FGD didapatkan semua RT setuju untuk didirikan bank sampah, selanjutnya dilakukan pembentukan 3 pengurus : ketua, bendahara, sekretaris. Dari RT 05 sudah ada nama calon pengurus bank sampah, sedangkan untuk RT 03 dan RT 04 belum ada. Tahap ketiga pelaksanaan bank sampah dilaksanakan di RT 05 pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.00. Kegiatan dimulai dengan pengumpulan, pemilihan, dan pencatatan sampah. Kemudian sampah ditimbang oleh mahasiswa dan calon pengurus bank sampah RT 05. Setelah semua sampah di timbang dan dicatat pengambilan sampah dilakukan oleh pihak BSIS dengan menggunakan kendaraan bangkeling. PJ kesehatan lingkungan dan calon ibu-ibu pengurus bank sampah RT 05 menuju kantor BSIS untuk mendapatkan penjelasan pemilihan sampah dan proses pemilihan sampah secara langsung. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi penanggung jawab acara. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan sosialisasi awal adalah warga lebih memahami tentang sampah, manfaat sampah, cara pemilahan sampah, dan kegiatan untuk mengurangi dampak sampah dengan melakukan perintisan bank sampah.

3. Analisis kelebihan dan kekurangan program
Program Kerja : Perintisan Bank Sampah
Kelebihan dari program kerja perintisan bank sampah adalah program ini dilaksanakan dengan 3 tahap, yaitu sosialisasi awal, FGD, dan pelaksanaan bank sampah. Pertama dalam tahap sosialisasi awal warga dan mahasiswa tampak aktif dalam kegiatan sosialisasi perintisan bank sampah yang bekerja sama dengan pihak BSIS (Bank Sampah Induk Surabaya), kehadiran warga dalam acara sosisalisasi yang diikuti oleh RT 03, RT 04 dan RT 05 sejumlah 52 warga, dan warga yang paling antusias adalah warga RT 05. Kedua dalam FGD perwakilan warga dan mahasiswa tampak aktif dalam kegiatan FGD perintisan bank sampah. Ketiga dalam tahap pelaksanaan bank sampah terlaksana diikuti oleh warga RT 05 dimulai tepat waktu yaitu pukul 10.00 WIB, ibu-ibu dari RT 05 tampak antusias dalam pelaksanaan bank sampah awal ini, acara dimulai dari pengumpulan, pemilahan, penimbanan, dan pencatatan dibantu oleh ibu-ibu calon pengurus bank sampah, Setelah semua sampah tercatat, mahasiswa menghubungi pihak BSIS untuk pengambilan sampah ke RT 05, kemudian penanggung jawab program kerja kesehatan lingkungan mengantar ibu-ibu calon pengurus bank sampah ke kantir BSIS untuk mendapatkan penjelasan pemilihan sampah dan mengetahui proses pemilhan sampah secara langsung.
Kekurangan program kerja perintisan bank sampah adalah Tahap sosisalisasi awal dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi perintisan bank sampah bersama pihak BSIS dimulai tidak tepat waktu yaitu pukul 18.10 WIB, hal tersebut dikarenakan menunggu kehadiran warga dan pihak BSIS yang akan memberikan sosialisasi. Warga dari RT 03 hanya perwakilan 1 orang karena koordinasi ke warga yang kurang dan adanya kesibukan masing-masing warga. Tahap kegiatan FGD perintisan bank sampah bersama pihak BSIS dimulai tidak tepat waktu yaitu pukul 19.30 WIB, kegiatan juga hanya dihadiri oleh perwakilan warga RT 03, RT 04 dan RT 05 sejumlah 7 orang. Tahap pelaksanaan bank sampah hanya dilakukan oleh RT 05 saja, RT 03 dan RT 04 belum terlaksana karena warga belum siap dan koordinasi antar warga masih kurang.



4. Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan Pokja:
Adanya keterbatasan dalam pelaksanaan program kerja kesehatan lingkungan : perintisan bank sampah meliputi waktu pemberian sosialisasi karena dibagi menjadi 2 waktu dan tidak seluruh warga ikut. RT 03 diwakili oleh pengurus kartar, RT 05 di wakili oleh ibu-ibu, sedangkan RT 04 di wakili oleh bapak-bapak. Dan ada beberapa warga yang kurang antusias untuk didirikannya bank sampah karena tingkat kesadaran terhadap sampah yang kurang. Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan pokja adalah dapat meneruskan program perintisan bank sampah khususnya untuk RT 03 dan RT 04 dengan memberikan sosialisasi ulang yang dihadiri oleh lebih banyak warga dalam sebuah event yang besar sehingga warga menjadi semakin lebih jelas mengenai pemanfaatan sampah melalui program perintisan bank sampah, kemudian membina para pengurus lebih lanjut untuk RT 5 dan memberikan semangat kepada para warga untuk aktif dalam program bank sampah.

Sumber :
Depkes RI. 2006. Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Mayarakat di Puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia
Efendi F dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas (Teori dan Praktik dalam Keperawatan). Jakarta: Salemba Medika
"


Wayan Tania Sugiantari

pada : 15 August 2017


"UJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Buatlah ringkasan dari kegiatan Anda di masing-masing Pokja selama P3N komunitas. Mohon dijelaskan sedetail mungkin aktivitas yang Anda lakukan dengan format sebagai berikut:
Nama mahasiswa:
NIM: 131613143003
Nama Pokja :
1. Pokja KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
2. Pokja Remaja
3. Pokja Lansia
4. Pokja Kesehatan Lingkungan

Latar Belakang
Keperawatan kesehatan komunitas terdiri dari tiga kata yaitu keperawatan, kesehatan dan komunitas, dimana setiap kata memiliki arti yang cukup luas. Azrul Azwar (2000) mendefinisikan ketiga kata tersebut sebagai berikut :
1. Keperawatan adalah ilmu yang mempelajari penyimpangan atau tidak terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dapat mempengaruhi perubahan, penyimpangan atau tidak berfungsinya secara optimal setiap unit yang terdapat dalam sistem hayati tubuh manusia, baik secara individu, keluarga, ataupun masyarakat dan ekosistem.
2. Kesehatan adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan manusia mulai dari tingkat individu sampai tingkat ekosistem serta perbaikan fungsi setiap unit dalam sistem hayati tubuh manusia mulai dari tingkat sub sampai dengan tingkat sistem tubuh.
3. Komunitas adalah sekelompok manusia yang saling berhubungan lebih sering dibandingkan dengan manusia lain yang berada diluarnya serta saling ketergantungan untuk memenuhi keperluan barang dan jasa yang penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guns meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 dengan warga RT 03, RT 04, RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir didapatkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 30% dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak, meskipun 3dari 10 balita bermain handphone lebih dari tiga jam sehari. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 orang. Pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%). Berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif, dan sebagian besar menyukai olahraga tetapi sebagian besar tidak mengetahui pertolongan pertama cedera olahraga. Berdasarkan hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia jika ada, dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII menjelaskan bahwa belum terbentuknya Posyandu Lansia di RW VIII. Program kesehatan lingkungan belum ada kegiatan untuk penmgelolaan sampah dan terhentinya kegiatan kerja bakti. Pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas. Pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai.
Program Pokja
POKJA KIA/KB
1) Demonstrasi cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui
Kegiatan dilakukan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 jam 18.00 WIB sebelum acara arisan ibu-ibu dasawisma di salah satu rumah warga RT 04 yang merupakan salah satu kader posyandu. Kegiatan diikuti sejumlah 30 peserta ibu-ibu dan dimulai dengan menggali pengetahuan peserta tentang cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI, menjelaskan cara memerah dan menyimpan ASI, dan menjelaskan nutrisi yang baik untuk ibu menyusui. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi yang mendemonstrasikan cara memerah Asi yang baik dan benar. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari demonstrasi didapatkan pengetahuan ibu-ibu bertambah ditunjukkan dengan kemampuan ibu-ibu dalam menjawab pertanyaan saat dievaluasi.
2) Skrining tentang tumbuh kembang anak
Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 09.00 WIB di Paud Dian Ceria di RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 12 anak usia 4-6 tahun dan dimulai dengan perkenalan, pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan kuisioner DENVER II dan ditutup dengan foto bersama. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemeriksa tumbuh kembang anak dengan menggunakan kuisioner DENVER II. Hasil dari skrining didapatkan 3 anak dengan suspect keterlambatan tumbuh kembang dan 1 untestable. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemeriksa tumbuh kembang anak dengan menggunakan kuisioner DENVER II.

POKJA REMAJA
1) Pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 15.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah ± 30 peserta karang taruna dan dimulai dengan memberikan materi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, simulasi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator kelompok kecil pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dengan metode RICE. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana pertolongan pertama pada cidera olahraga.
2) Penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 21.00 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang perwakilan dari karang taruna RT 03 dan RT 04 dan anggota perkumpulan “Arek Kali Londo” dan dimulai dengan pemaparan materi tentang bahaya merokok, tanya jawab, dan evaluasi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi observer. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana cara berhenti merokok yang membutuhkan usaha dan tekad yang kuat dari diri sendiri.
POKJA LANSIA
1) Pembentukan kader dan sosialisasi
Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 18.30 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang calon kader lansia dari RT 03 dan RT 05 dan dimulai dengan pemaparan hasil temuan yang didapatkan dari data pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa, penyampaian sosialisasi pembuatan posyandu lansia, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemandu senam lansia dan melakukan pemeriksaan tekanan darah. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pembentukan kader dan sosialisasi pembentukan posyandu lansia adalah persetujuan dari calon ibu-ibu kader posyandu lansia dan pemahaman bertambah tentang pelaksanaan program posyandu lansia.
2) Senam lansia dan pemeriksaan kesehatan
Kegiatan dilakukan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 jam 06.00 WIB di lapangan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 37 warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05 dibantu oleh para kader posyandu lansia. Acara dimulai dengan senam lansia : senam stroke dan diabetes mellitus yang dipandu oleh mahasiswa, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan. Meja 1 tempat pendaftaran, meja 2 pemeriksaan tekanan darah, meja 3 pemeriksaan asam urat, meja 4 konsultasi, dan meja 5 pemberian nutrisi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi bagian publikasi dan dokumentasi. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan senam lansia dan pemeriksaan kesehatan adalah membantu para lansia untuk meningkatkan kebugaran dan mencegah masalah kesehatan khususnya pada lansia dengan peningkatan kadar asam urat.
POKJA KESEHATAN LINGKUNGAN
1) Kerja bakti
Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli, 30 Juli, dan 13 Agustus 2017 (RT 04) jam 07.00 WIB di balai masing- masing RT, RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti oleh warga RT 03, RT 04, dan RT 05. Kerja bakti pertama dilaksanakan tanggal 23 Juli 2017 di lingkungan RT 03. Lokasi kerja bakti di samping balai RT 03 dengan membersihkan halaman dan meratakan tanah lapangan. Kerja bakti kedua 30 Juli 2017 di bagi menjadi 2 tempat yaitu di lingkungan RT 03 dan RT 05 dengan mengecat pagar pembatas dan mendirikan umbul-umbul dalam rangka hari kemerdekaan. Kerja bakti ketiga pada tanggal 13 Agustus 2017 di lingkungan RT 04 dengan membersihkan tanaman liar di wilayah tangkis, mengecat pembatas, dan merapikan balai RT. Pada saat kegiatan, saya terlibat dalam pembersihan rumput di dekat jalan raya, pengapuran tembok-tembok di samping jalan raya dan kegiatan kebersihan lainnya. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan kerja bakti adalah lingkungan menjadi lebih bersih dan rapi sehingga masalah kesehatan lingkungan dapat dicegah.
2) Perintisan bank sampah
Kegiatan dilakukan dengan 3 tahap. Pertama dilaksanakan sosialisasi awal perintisan bank sampah pada hari Minggu, 23 Juli 2017 dimulai jam 18.30 di Gang 12 RT 05 RW VIII dan jam 19.30 di Gang 4 RT 04 RWVIII. Kegiatan bekerja sama dengan pihak BSIS diikuti oleh Warga di RT 03, RT 04 dan RT 05 RW VIII kel. Medokan Semampir. Acara dimulai dengan penyampaian materi tentang bank sampah bekerja sama dengan pihak BSIS, tanya Jawab tentang perintisan bank sampah, berbagi cerita dengan para pengurus bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02 mengenai perintisan bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02. Tahap kedua dilaksanakan FGD pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 19.00 WIB untuk membahas kelanjutan respon warga untuk perintisan bank sampah. Hasil dari FGD didapatkan semua RT setuju untuk didirikan bank sampah, selanjutnya dilakukan pembentukan 3 pengurus : ketua, bendahara, sekretaris. Dari RT 05 sudah ada nama calon pengurus bank sampah, sedangkan untuk RT 03 dan RT 04 belum ada. Tahap ketiga pelaksanaan bank sampah dilaksanakan di RT 05 pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.00. Kegiatan dimulai dengan pengumpulan, pemilihan, dan pencatatan sampah. Kemudian sampah ditimbang oleh mahasiswa dan calon pengurus bank sampah RT 05. Setelah semua sampah di timbang dan dicatat pengambilan sampah dilakukan oleh pihak BSIS dengan menggunakan kendaraan bangkeling. PJ kesehatan lingkungan dan calon ibu-ibu pengurus bank sampah RT 05 menuju kantor BSIS untuk mendapatkan penjelasan pemilihan sampah dan proses pemilihan sampah secara langsung. Pada saat kegiatan, saya membantu warga memilah sampah dan menimbang sampah. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan sosialisasi awal adalah warga lebih memahami tentang sampah, manfaat sampah, cara pemilahan sampah, dan kegiatan untuk mengurangi dampak sampah dengan melakukan perintisan bank sampah.

Analisis kelebihan dan kekurangan program
Program Kerja : Pelatihan Penanganan Pertama pada Cedera Olahraga
Kelebihan dari program kerja pelatihan penanganan pertama pada cedera olahraga adalah dilaksanakan dengan menemui karang taruna dari RT 3 dan mendapat respon yang sangat baik dari ketua karang taruna. Pada tahap sosialisasi awal warga, karang taruna dan mahasiswa tampak aktif dalam kegiatan sosialisasi pelatihan penanganan pertama pada cedera olahraga. Kegiatan penanganan pertama pada cedera olahraga dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 15.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah ± 30 peserta karang taruna dan dimulai dengan memberikan materi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, simulasi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator kelompok kecil pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dengan metode RICE. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana pertolongan pertama pada cidera olahraga.
Kekurangan program kerja perintisan bank sampah adalah kegiatan sempat di undur yang seharusnya dilaksanakan pukul 13.00 WIB di undur menjadi pukul 20.00 WIB, dikarenakan tiba-tiba peserta berhalangan hadir dikarenakan terdapat kegiatan lain dan pekerjaan yang masih belum terselesaikan. Peserta tampak antusias saat pelaksanaan kegiatan. Peserta juga mengikuti kegiatan dengan baik dan mau mencoba saat dilakukan demonstrasi pada kelompok kecil.
Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan Pokja:
Adanya keterbatasan dalam pelaksanaan program kerja kesehatan remaja : pelatihan penanganan pertama pada cedera olahraga meliputi waktu pemberian sosialisasi hanya sedikit dan hanya diikuti sedikit dari perwakilan karang taruna. RT 03 diwakili oleh pengurus kartar yang merupakan karang taruna yang paling aktif. Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan pokja adalah dapat meneruskan program pelatihan penanganan pertama pada cereda olahraga dengan memberikan pelatihan penanganan pertama pada cedera olah raga, kemudian membina para pengurus karang taruna lebih lanjut untuk mampu melakukan penanganan pertama pada cedera olahraga dan memberikan semangat kepada para karang taruna untuk lebih menggunakan waktu luangn dengan kegiatan yang positif.
"


Nur Alfi Hidayati

pada : 15 August 2017


"UJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Nama : Nur Alfi Hidayati
NIM : 131613143025
Pokja : Kesehatan Lingkungan (Kerja Bakti)

A. Latar berlakang
Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama, pemerintahan yang sama dan mempunyai interest yang sama (Riyadi, 2007). Dalam rangka mewujudkan kesehatan komunitas yang optimal maka dibutuhkan perawatan kesehatan komuntas. Keperawatan kesehatan komunitas adalah pelayanan keperawatan profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal dilakukan melalui peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif), dengan menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Depkes 2006). Sasaran kelompok dalam keperawatan komunitas adalah kelompok khusus yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang terikat dalam suatu instansi ataupun tidak, seperti posyandu, kelompok balita, kelompok ibu hamil, usia lanjut, dan pekerja tertentu (Effendi & Makhfudli 2009). Ada beberapa masalah kesehatan komunitas yang terdapat di RT 03,04 dan 05 RW 08 Kelurahan Medokan Semampir. Pertama, kelompok kerja KIA ditemukan masalah kurangnya kesadaran warga tentang ASI eksklusif pada bayi karena sebagian besar ibu menyusui adalah ibu pekerja dan belum adanya pemantauan tahap perkembangan anak. Kedua, kelompok kerja remaja. Banyak remaja memiliki hobi berolahraga, namum belum mengetahui cara penanganan ketika cidera dan kurangnya kesadaran akan dampak buruk dari rokok. Ketiga, kelompok kerja lansia ditemukan masalah belum ada posyandu lansia dan tidak ada kegitan kelompok lansia yang berhubungan dengan kesehatan. Keempat, kelompok kerja kesehatan lingkungan. Masalahnya yaitu kegiatan kerja bakti yang terhenti dan sebagian warganya yang tinggal di sekitar pinggir sungai masih beresiko membuang sampah di sungai karena belum ada pemilahan atau pengelolaan sampah.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal dan hasil FGD didapatkan ibu hamil dengan keluhan hipertensi 33,3%, perdarahan 33,3%, cakupan penggunaan KB 62,5%, dan 70% sudah memiliki buku KIA dan angka ASI eksklusif sebesar 30%. Kader Posyandu Balita RT 03, RT 04 dan RT 05 menjelaskan bahwa angka ASI eksklusif masih rendah dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 orang. Remaja yang aktif mengikuti kegiatan karang taruna sebanyak 14 orang (23%). Hampir 90% remaja merupakan perokok aktif. Berdasarkan hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia, sekitar 28,6% tidak mau mengikuti posyandu dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII menjelaskan bahwa Posyandu Lansia belum ada di RW VIII. Pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas. Pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai. Sungai sebelah utara sepanjang RT 03, RT 04, dan RT 05 tampak kotor, air sungai berwarna hitam. Selain itu, kegiatan kerja bakti juga terhenti.
Kurangnya ekonomi, kesadaran, kepedulian dan pengetahuan masyarakat akan dampak buruk terhadap kesehatan merupakan beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kondisi yang ada. Pada kelompok kesehatan ibu dan anak, banyak ibu pekerja yang kurang mengetahui cara pemberian ASI eksklusif pada bayinya sehingga diperlukan pendidikan kesehatan untuk meningkatkan angka keberhasilan ASI eksklusif. Proses skrining perkembangan anak perlu dilakukan karena semakin banyaknya faktor resiko penyebab keterlambatan perkembangan anak. Pada kelompok remaja, hobi remaja yang senang berolahraga beresiko cidera. Sehinga perlu adanya kemampuan remaja akan penanganan pertama saat cidera. Kebiasaan merokok remaja perlu di waspadai dengan meningkatkan pengetahuan bahaya merokok bagi kesehatan. Pada kelompok lansia, peningkatan kualitas hidup lansia perlu dilakukan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif. Pada kelompok kesehatan lingkungan, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya perlu ditingkatkan menjadi lebih produktif.
Berdasarkan beberapa permasalahan kesehatan tersebut, pada mini lokakarya diputuskan diadakan demostrasi cara memerah ASI, cara menyimpan ASI, cara memberikan ASI perah dan edukasi nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui. Pada kelompok anak diadakan skrining perkembangan anak dengan Denver II. Pada kelompok remaja dilakukan pelatihan penanganan pertama pada cidera dan penyuluhan bahaya merokok. Pada kelompok lansia dilakukan perintisan posyandu lansia dengan senam lansia dan pemeriksaan kesehatan. Pada kesehatan lingkungan dilakukan kerja bakti dan perintisan bank sampah.

B. Program Pokja
1. Pokja KIA
Terdapat dua program kerja dalam pokja KIA. Pertama, demonstrasi cara memerah ASI, cara menyimpan ASI, cara pemberian ASI dan edukasi nutrisi yang tepat bagi ibu menyusui. Pada saat kegiatan tersebut saya berperan sebagai fasilitator. Ibu-ibu sangat antusias mendengarkan dan bertanya mengenai cara memerah ASI. Kegiatan demontasi tersebut dilakukan disalah satu rumah warga saat ada arisan dasawisma. Kedua, skrining perkembangan anak yang dilakukan di TK Dian Ceria dengan menggunakan kuesioner Denver II. Pada saat kegiatan, saya mendapat pengalaman untuk menjadi pemeriksa perkembangan personal sosial, bahasa, motorik kasar dan halus.
2. Pokja remaja
Terdapat tiga program kerja yaitu pelatihan penanganan pertama pada cidera olahraga, penyuluhan bahaya merokok dan lomba selfie anti merokok. Namun, hanya dua program yang dapat terlaksana. Lomba selfie anti merokok tidak dapat terlaksana karena susahnya mengubah perilaku remaja untuk berhenti merokok. Pada pelatihan penanganan pertama pada cidera olahraga, saya berperan sebagai mentor atau fasilitator dalam kelompok kecil untuk memperagakan cara membebat dan membidai. Pada penyuluhan bahaya merokok saya berperan sebagai fasilitator untuk memfasilitasi peserta ketika bertanya. Selain itu, saya juga berusaha memberikan motivasi agar remaja berhenti merokok secara perlahan-lahan.
3. Pokja lansia
Program kerja pada kelompok lansia awalnya adalah perintisan posyandu lansia. Perintisan posyandu lansia ini diawali dengan pembentukan kader lansia, sosialisasi dan pengumpulan syarat-syarat posyandu lansia. Pada saat pembentukan kader lansia dan sosialisasi saya berperan sebagai notulen. Banyak peserta sosialisasi yang bertanya mengenai konsep posyandu lansia. Berdasarkan kesepakatan peserta, kesimpulan saat sosialisasi posyandu yaitu akan dicoba diadakannya posyandu lansia karena banyaknya peserta yang antusias dan warga juga menginginkan kualitas hidup lansia lebih tinggi lagi. Saat pengumpulan data untuk syarat terbentuknya posyandu lansia, hanya terkumpul 64 KK dan KTP lansia dari target 75 KK dan KTP. Sehingga belum bisa tercapainya tujuan utama yaitu perintisan posyandu lansia. Namun, tetap diadakannya kegiatan semacam posyandu lansia yaitu senam lansia dan pemeriksaan kesehatan. Meja 1 pendaftaran, meja 2 penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan, meja 3 pemeriksaan tekanan darah dan cek asam urat, meja 4 konsutasi dan meja 5 pemberian nutrisi. Saya berperan sebagai pemandu senam lansia dan membantu penimbangan berat badan serta tinggi badan. Lansia sangat antusias dan bersemangat saat senam lansia. Senam lansia ini merupakan perpadauan senam anti stroke dan anti diabetes. Kegiatan ini membantu lansia untuk meningkatkan kebugaran dan mencegah masalah kesehatan.
4. Pokja kesehatan lingkungan
Terdapat dua program kerja kesehatan lingkungan yaitu kerja bakti dan perintisan bank sampah. Saat kerja bakti, saya terlibat kerja bakti bersama warga. Kerja bakti ini dilakukan di RT 03 tanggal 23 Juli 2017, di RT 04 tanggal 12 Agustus 2017 dan RT 05 tanggal 13 Juli 2017. Beberapa kegiatan saat kerja bakti yaitu mambersihkan balai RT, mengecat pembatas tangkis, merapikan tanaman liar disekitar tangkis, dan mendirikan umbul-umbul dalam rangkat kemerdekaan RI. Pada program perintisan bank sampah, saya terlibat dalam koordinasi dengan Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS), kemudian menjadi fasilitator saat sosialisai bank sampah ke warga tiap RT. Beberapa warga merasa tertarik dengan adanya bank sampah. Pada akhirnya, yang bisa berjalan untuk merintis bank sampah sampai ada pengurusnya adalah RT 05, pengumpulan, pemilahan, dan penyetoran pertama dapat dilakukan pada tanggal 13 Juli 2017. Setelah semua sampah terkumpul, sampah tersebut diambil oleh pihak BSIS dengan menggunakan kendaraan bangkeling. Para ibu pengurus bank sampah mendapatkan penjelasan langsung dari pihak BSIS.

C. Analisis Kelebihan dan Kekurangan Program Kerja Bakti
Beberapa kelebihan dari program kerja bakti yaitu pertama menjadikan lingkungan sekitar RT 03, 04 dan 05 RW 08 Kelurahan medokan semampir lebih bersih dan nyaman. Karena wilayah masyarakat yang dekat dengan sungai beresiko menjadi tempat yang tidak sehat. Kedua, menyadarkan warga sekitar akan pentingnya lingkungan yang bersih untuk meningkatkan derajat kesehatan. Lingkungan yang bersih dan nyaman akan menjadikan lingkungan yang sehat, bebas dari penyakit. Ketiga, meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong antar warga sekitar. Hampir seluruh warga khususnya bapak-bapak ikut melakukan kerja bakti. Ibu-ibu membantu menyediakan konsumsi. Bekerja sama untuk mewujudkan lingkungan yang bersih, nyaman dan sehat.
Kekurangan program kerja bakti ini hanya satu yaitu keterbatasan alat kebersihan saat melakukan kerja bakti di RT 03 dan 05. Kurangnya koordinasi mahasiswa dan warga setempat mengenai alat-alat yang dibutuhkan saat pelaksanaan merupakan kendala. Namun, hal itu dapat diatasi dengan mencari dan meminjam alat kebersihan segera saat pelaksanaan.

D. Saran untuk Keberlanjutan dan Perbaikan Pokja
Kegiatan kerja bakti di masing-masing RT di wilayah RW 08 awalnya sudah ada. Namun sempat terhenti beberapa waktu karena beberapa kendala. Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan kesehatan lingkungan khususnya kerja bakti yaitu menghidupkan kembali rutinitas kerja bakti dan mengajak kelompok remaja untuk melakukan kerja bakti. Tidak hanya bapak-bapak yang melakukannya. Membuat jadwal dilakukannya kerja bakti secara teratur dan mencoba melakukan kerja bakti secara bersamaan dalam satu RW, bukan hanya masing-masing RT saja.
"


wahyu hanung prasetyo

pada : 15 August 2017


"Nama : WAHYU HANUNG PRASETYO, S.Kep.
NIM : 131613143034
Pokja : Kesehatan Remaja – Pelatihan Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga

1. Latar Belakang
Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga (Sumijatun dkk, 2006). Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Sedangkan dalam kelompok masyarakat ada masyarakat petani, masyarakat pedagang, masyarakat pekerja, masyarakat terasing dan sebagainya (Mubarak, 2006). Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat (public health) dengan dukungan peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal, sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan (Mubarak, 2006). Sasaran kelompok adalah kelompok khusus yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang terikat dalam suatu instansi. Kelompok yang tidak terkait dengan instansi adalah posyandu, kelompok balita, kelompok ibu hamil, usia lanjut, dan pekerja tertentu (Effendi & Makhfudli 2009). Dari hasil pengkajian yeng dilakukan dengan metode door to door serta focus group discussion (FGD) yang telah dilakukan dengan warga RT 03, RT 04, dan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan semampir didapatkan beberapa masalah kesehatan 4 Program Kerja KIA/KB, Remaja, Lansia dan Kesehatan Lingkungan yaitu antara lain : Pada kelompok kerja KIA terutama kelompok ibu menyusui yang bekerja, sebagian besar mengeluhkan ketidakberhasilan menyusui secara eksklusif dan pada kelompok balita yang terlalu sering berinteraksi dengan handphone beresiko mengalami keterlambatan perkembangan. Pada kelompok kerja remaja, sebagian besar memiliki kebiasaan negatif merokok, tetapi juga memiliki kebiasaan positif yakni menyukai olahraga yang beresiko mengalami cedera. Pada kelompok kerja lansia, jumlah cukup banyak tetapi tidak terdapat posyandu lansia yang bisa mendukung kegiatan lansia untuk meningkatkan kualitas hidup. Pada kelompok kerja kesehatan lingkungan, sebagian besar wilayah terdapat di pinggir kali, pembuangan sampah sudah dikoordinir tetapi tidak ada pemilahan atau pengumpulan secara teratur sehingga sangat beresiko dibuang di sungai.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 didapatkan angka keberhasilan ASI eksklusif sebesar 30% dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak, meskipun 3dari 10 balita bermain handphone lebih dari tiga jam sehari. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 orang. Pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%). Berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif, dan sebagian besar menyukai olahraga tetapi sebagian besar tidak mengetahui pertolongan pertama cedera olahraga. Berdasarkan hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia jika ada, dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII menjelaskan bahwa Posyandu Lansia belum ada di RW VIII. Pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas. Pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai.
Rendahnya keberhasilan ASI eklusif pada kelompok ibu menyusui dikarenakan ibu menyusi yang bekerja mengeluh bahwa ASI nya tidak keluar atau sedikit sehingga anak tidak puas saat menyusu, serta kebanyakan dari ibu yang menyusui kurang mengetahui tentang cara memerah dan mengelolah susu yang telah di perah sehingga diperlukan edukasi lebih lanjut untuk meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif. Pada kelompok anak, faktor resiko peyebab keterlambatan perkembangan yang semakin banyak, membuat proses skrining perkembangan perlu dilakukan untuk deteksi dini keterlambatan perkembangn. Pada kelompok kerja remaja, remaja cenderung merokok saat mereka sedang diam atau sedang berkumpul dengan komunitasnya, kebanyakan dari remaja sudah mengetahui dampak buruk dari rokok tapi mereka masih belum emiliki motivasi untuk berhenti merokok sehingga perlu adanya testimoni langsung dari perokok yang berhasil berhenti merokok yang memaparkan tentang bahaya merokok dan kiat untuk berhenti merokok. Pada kelompok remaja juga cenderung memiliki kegemaran berolahragaseperti futsal dimana kegiatan tersebut cenderung mengakibatkan cerdera, dan akan menjadi dampak yang lebih serius ketika tidak tahu penangan yang benar. Pada kelompok lansia, tidak ada kegiatan berkelompok yang positif membuat harus segera dilakukan koordinasi kegiatan lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Pada kesehatan lingkungan, kebiasaan membuang sampah yang telah tertib perlu diubah menjadi lebih produktif karena bersihan dan ekonomi yang meningkat bisa meningkatkan kesehatan.
Banyaknya permasalahan yang telah di paparkan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya disebabkan karena penduduk memiliki keterbatasan ekonomi, kurangnya kesadaran dan kepedulian, kurangnya pengetahuan masyarakat di sekitarnya serta dampaknya terhadap kesehatan. Sehingga pada saat mini lokakarya, diputuskan untuk kelompok ibu diadakan demonstrasi cara memerah ASI, cara menyimpan ASI perah, cara memberikan ASI perah dan edukati nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui. Pada kelompok anak dilakukan skrining perkembangan menggunakan Denver II. Pada kelompok remaja diberikan penyuluhan bahaya merokok dan pelatihan pertolongan pertama cedera olahraga. Pada kelompok lansia dilakukan perintisan posyandu lansia. Pada kesehatan lingkungan, dilakukan dukungan kerja bakti dan perintisan bank sampah.
2. Program Pokja
1. Pojak KIA
Pada Pokja KIA terdapat dua program kerja, pertama demonstrasi dan edukasi tentang manajemen laktasi, dan kedua adalah skrining perkembangan anak di TK Dian Ceria. Pada program kerja pertama kegiatan dilakukan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 jam 18.00 WIB sebelum acara arisan ibu-ibu dasawisma di salah satu rumah warga RT 04 dengan nama kegiatan demonstrasi memerah ASI dan edukasi cara menyimpan ASI perah, cara memberikan ASI perah dan nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui, saya bertugas untuk menyiapakan perlengkapan yang ada sebelum kegiatan dimulai, serta saya berkesempatan untuk terlibat pada saat pelaksanaan sebagai fasilitator saat pelaksanaan . Pada program kerja kedua yang dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 09.00 WIB di Paud Dian Ceria di RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir, yaitu skrining perkembangan anak menggunakan Denver II. Pada saat kegiatan, saya mendapat pengalaman untuk menjadi pemeriksa perkembangan personal sosial, bahasa, motorik halus dan kasar pada tiga orang anak. Hasil dari skrining didapatkan 3 anak dengan suspect keterlambatan tumbuh kembang.
2. Pokja Remaja
Terdapat dua program pada Pokja remaja, yakni pelatihan pertolongan pertama cedera olahrga dan penyuluhan bahaya merokok dan lomba selfie anti rokok. Kegiatan pertama dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 15.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir tentang pelatihan pertolongan pertama cedera olahraga, saya terlibat dalam pembelajaran bersama untuk menjadi mentor atau fasilitator pada kelompok kecil saat mempraktekkan beberapa tindakan. Pada program kerja kedua penyuluhan bahaya merokok, dilaksanakan bersamaan dengan program kerja yang pertama. saya terlibat menjadi observer dan kegiatan berjalan dengan lancar. Tetapi pada program kerja yang kedua ini yang seharusnya dilanjutkan dengan lomba selfi anti rokok tidak berjalan dikarenakan kurangnya antusias dari masyarakat, dan hal ini juga membuktikan sulitnya untuk mengubah kebiasaan merokok di masyarakat.
3. Pokja Lansia
Rencana awal pada pokja lansia, adalah perintisan poyandu lansia. Tahap awal yang kita lakukan adalah penunjukan kader lansia yang ada di setiap RT, setalah penunjukan kader memberikan penyuluhan kapada kader tentang posyandu lansia sendiri, mulai dari tugas dari kader sampai dengan bentuk kegiatan serta peralatan apa saja yang diperlukan saat dilakukan posyandu lansia. Setelah itu pengumpulan persyaratan berupa KK dan KTP dari lansia yang berusia 60 tahun atau lebih. Pada kegiatan ini, saya sebagai penanggung jawab RT 03, terlibat dalam pembagian tugas pengambilan KTP dan KK, dilanjutkan dengan pengambilan foto copy KTP dan KK di wilayah RT 03. Pada saat door to door, saya dan teman-teman menemukan beberapa lansia yang sudah tidak memungkinkan melakukan kegiatan di luar rumah, tetapi sebagian besar masih menginginkan kegiatan lansia. Tetapi sampai dengan minggu ke 6 KK dan KTP yang telah terkumpul masih belum terpenuhi sehingga kami hanya melakukan kegiatan yang serupa dengan kegiatan posyandu lansia sebagai bekal para kader yang telah di bentuk. Kegiatan tersebut berupa senam lansia yang terdiri dari senam anti diabetes dan anti stroke, dilanjutkan dengan simulasi 5 meja posyandu lansia. Pada meja pertama terdapat pendaftaran, meja kedua pengukuran berat badan, meja ketiga pemeriksaan tekanan darah dan asam urat, meja keempat konsultasi, dan meja kelima pemberian nutrisi. Cek darah yang dilakukan adalah cek asam urat karena saat hasil pengkajian primer, angka keluhan paling tinggi adalah asam urat. Pada pokja lansia, saya terlibat sebagai pihak yang memberikan konsultasi dari hasil pemeriksaan tekanan darah dan asam urat.
4. Pokja Kesehatan Lingkungan
Pada Pokja kesehatan lingkungan terdapat dua program kerja yakni kerja bakti dan perintisan bank sampah. Pada program kerja bakti, dilaksanakan sebanyak3 kali dalam 4 mingg. Kerja bakti dilaksanakan diketiga RT secara bergantia saya terlibat dalam pembersihan rumput di dekat jalan raya, pengapuran tembok-tembok di samping jalan raya dan kegiatan kebersihan lainnya. Kerja bakti RT 03 dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2017, RT 04 pada tanggal 30 Juli 2017, dan RT 05 pada tanggal 13 Agustus 2017. Pada program kerja bank sampah, terdapat beberapa tahapan diantaranya: sosialisasi awal yang memaparkan tentang bank sampah itu sendiri dan bagaimana proses pembentukan bank sampah, tahap selanjutnya yaitu penetuan calon pengurus dari bank sampah itu sendiri dan melihat respon dari masyarakat tentang keberadaan bank sampah melalui FGD (Focus Group Discution) dan tahap terakhir adalah pelaksanaan bank sampah itu sendiri yang dilakukan pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.00, di RT 05. saya terlibat menjadi fasilitator saat sosialisai bank sampah ke warga tiap RT, dan saat dilaksanakan FGD.

3. Analisis Kelebihan dan Kekurangan Program Kerja Pelatihan Penanganan Pertama Pada Cedera Olahraga
Kelebihan dari program kerja pelatihan penanganan pertama pada cedera olahraga adalah para pemuda yang memberikan dukungan dikarenakan kegiatan tesebut belum pernah dilaksanakan dan mereka menyadari bahwa pelatiha tersebut sangat bermanfaat bagi mereka yang gemar berolah. Kedua, kebanyakan dari mereka lulusan dari SMA dan ada pula yang sedang menempu\h kuliah sehingga mereka mudah untuk diajak komunikasi dan mudah mengerti yang kita jelaskan. Ketiga, dari peserta pelatiha terdapat beberapa orang yang pernah mengalami cedera olahraga serta pengalaman kecelakaan, sehingga mereka bisa memeberikan wawasan atau pengalaman mereka saat terjadi kecelakaan serta cede olahraga, dan mereka bisa memberikan gambaran bahwa penanganan pertama pada cedera olahraga mememang sangat penting dilakukan dan sangat penting untuk mengetahui cara yang banar untuk melakukannya. Yang ke empat adalah dukungan dari fakultas sehingga peralatan yang di butuhkan dapat tesedia berupa mitela dan juga bidai.
Kekurangan dari program pelatihan penanganan pertama pada cedera olahraga adalah koordinasi dengan karang taruna yang kurang sehingga kegiatan yang seharusnya dilaksanakan pada pukul 13.00 WIB di undur menjadi pukul 20.00 WIB, yang kedua adalah sulitnya menyamakan waktu luang dari para remaja yang ada di RW VIII sehingga harus mencari agenda lain dimana terdapat pemuda yang berkumpul sehingga kegiatan pelatihan dapat bergabung didalamnya. Yang ketiga lokasi dari kegiatan yang kurang memadai, dimana kegiatan tersebut dilaksanakan di depan rumah salah satu anggota “Arek Kali Londo” sehingga media berupa power point yang telah disiapkan tidak bisa di tampilkan karena tidak di dukung oleh proyektor, serta penerangan yang kurang menyebabkan pada saat demonstrasi terkadang harus dibantu dengan senter agar dapat terlihat dengan jelas.


4. Saran untuk keberlajutan dan perbbaikan pokja
Masih sedikitnya cakupan yang telah diberikan sosialisasi tentanag penanganan pertama pada cedera olahraga yang terbatas pada komunitas arek kali londo sehingga perlu adanya sosialisasi ulang pada kelompom yang belum mendapatkan sosialisai sehingga semua remaja dapat tersosialisasi mungkin dengan bergabung dengan event perlombaan footsal dan sebagainya. Serta meningkatkan koordiasi dengan karang taruna sehingga tidak terjadi miskomunikasi sehingga persiapan serta tempat dilakukan pelatihan bisa lebih memadai.
"


Muhammad Syaltut

pada : 15 August 2017


"UJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS

Nama : Muhammad Syaltut
NIM : 131613143047

POKJA :
1. Pokja KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
2. Pokja Remaja
3. Pokja Lansia
4. Pokja Kesehatan Lingkungan

Latar Belakang
Keperawatan kesehatan komunitas merupakan tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan ketrampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat (ANA, 2004). Keperawatan komunitas memprioritaskan pada upaya untuk meningkatkan kesehatan promotif dan preventif dengan tidak mengabaikan usaha-usaha kuratif dan rehabilitatif (Depkes, 2006). Sasaran kesehatan komunitas merupakan kelompok khusus yang rentan terhadap timbulnya masalah kesehatan baik yang terikat dalam suatu instansi. Kelompok yang tidak terkait dalam suatu instansi adalah posyandu, kelompok balita, kelompok ibu hamil, usia lanjut, dan pekerja tertentu (Effendi & Makhfudli, 2009). Berdasarkan hasil pengkajian tanggal 5-8 Juli 2017 di RT 3, 4 & 5 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir, ditemukan beberapa masalah kesehatan yang terbagi dalam empat program kerja (Pokja). Pada Pokja KIA-KB (Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana) ditemukan masalah pada kelompok ibu meyusui yaitu rendahnya kesadaran tentang pentingnya ASI eksklusif dan pada kelompok balita yang terlalu sering berinteraksi dengan handphone beresiko mengalami keterlambatan perkembangan. Pada Pokja remaja ditemukan masalah sebagian besar memiliki kebiasaan negatif mengkonsusmsi merokok dan kurangnya pengetahuan terkait penanganan cidera olahraga, dimana kebanyakan remaja aktif dalam olahraga yang beresiko mengalami cidera. Pada Pokja lansia ditemukan masalah ditemukan masalah posyandu lansia yang tidak aktif dan tidak adanya kegiatan yang berhubungan dengan lansia. Pada Pokja Kesling (Kesehatan Linkungan) ditemukan masalah sebagian besar wilayah terdapat di pinggir kali, pembuangan sampah sudah dikoordinir tetapi tidak ada pemilahan atau pengumpulan secara benar.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian pada tanggal 5-8 Juli 2017 dengan metode door to door dan foccus group discussion (FGD). Pada Pokja KIA-KB didapatkan data dari ibu hamil ditemukan keluhan hipertensi 33,3%, perdarahan 33,3%, cakupan penggunaan KB 62,5%, sedangkan 70% sudah memiliki buku KIA dan agnka cakupan ASI eksklusif sebesar 30% dan berdasarkan hasil FGD dengan kader Posyandu Balita RT 03, RT 04 dan RT 05 menjelaskan bahwa angka ASI ekklusif masih rendah dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 warga RT 3,4 dan 5. Pada Pokja remaja didapatkan data kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%) dan berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif. Pada Pokja lansia didapatkan data dari hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia, sekitar 28,6% tidak mau mengikuti posyandu dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII menjelaskan bahwa Posyandu Lansia belum ada di RW VIII. Pada Pokja Kesling didapatkan data pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas dan pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai.
Pada Pokja KIA-KB masalah yang ditemukan pada kelompok ibu menyusui banyak ditemukan pada kelomopok ibu pekerja dan kebanyakan tidak mengetahui cara untuk memerah dan menyimpan ASI, pada kelompok balita kemungkinan adanya keterlambatan perkembangan, disebabkan banyaknya fakto resiko yang biasa dilakukan oleh balita dan lingkungannya. Pada Pokja remaja masalah yang ditemukan pada remaja disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan bahaya merokok dan tidak adanya pelatihan khusus untuk menangani cidera pada olahraga. Pada Pokja lansia masalah tidak ada kegiatan kelompok yang positif dikarenakan tidak adanya perkumpulan yang menanungi dan tidak adanya penggerak untuk melakukan kegiatan pada lansia. Pada Pokja Kesling masalah utama terkait pembuangan sampah diakibatkan karena kurangya kesadaran warga tentang ketertiban dalam membuang sampah.
Berdasarkan data tersebut, maka perlu dilakukan kegiatan untuk mengatasi masalah kesehatan yang ada di wilayah RT 3, 4 & 5 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir, setelah melewati tahap pengkajian dan dilanjutkan dengan FGD masing-masing pokja. Pada saat mini lokakarya awal, diputuskan untuk Pokja KIA-KB akan diadakan demonstrasi cara memerah ASI, cara menyimpan ASI perah, cara memberikan ASI perah dan edukati nutrisi yang tepat pada ibu menyusui untuk meningkatkan cakupan keberhasilan ASI eksklusif, dan pada kelompok balita dilakukan skrining perkembangan menggunakan Denver II untuk deteksi dini keterlambatan perkembangan. Pada Pokja remaja diberikan penyuluhan bahaya merokok dan pelatihan pertolongan pertama cedera olahraga untuk meningkatkan pengetahuan para remaja. Pada Pokja lansia dilakukan perintisan posyandu lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Pada Pokja Kesling, dilakukan dukungan kerja bakti dan perintisan bank sampah, untuk merubah kebiasaan membuang sampah yang telah tertib perlu menjadi lebih produktif dan meningkatkan ekonomi.

Program Pokja
1. Pojak KIA-KB
Pada Pokja KIA KB terdapat dua Proker (Program Kerja). Proker yang pertama yaitu demonstrasi cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui. Kegiatan dilakukan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 jam 18.00 WIB digabung acara arisan ibu-ibu dasawisma RT 04 dengan jumlah peserta sekitar 30 ibu-ibu. Saya selaku Sie Perlengkapan berkesempatan untuk terlibat dalam mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Alat-alat yang dibutuhkan Pada saat kegiatan yaitu mannequin payudara, alat pompa ASI untuk kebutuhan demonstrasi dan laptop, proyektor untuk kebutuhan persentasi. Proker kedua yaitu skrining perkembangan anak menggunakan Denver II. Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 09.00 WIB di Paud Dian Ceria di RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir dengan peserta sejumlah 12 anak usia 4-6 tahun, saya selaku sie dokumentasi bertugas untuk mendokumentasikan keigiatan saat acara, dan terlihat antusias dan respon dari para balita sangat baik.
2. Pokja Remaja
Pada Pokja remaja terdapat tiga program kerja yakni pelatihan pertolongan pertama cedera olahrga, penyuluhan bahaya merokok, dan lomba selfie anti rokok. Akan tetapi saat pelaksanaan, program kerja lomba selfie anti rokok tidak dapat berjalan karena kurang peserta dikarenakan masih sangat susah sekali mengubah perilaku remaja utuk tidak merokok, sehingga hanya dua program kerja yang kami laksanakan. Proke yang pertama yaitu pelatihan pertolongan pertama cedera olahraga. Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 20.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir, Peserta sejumlah ± 30 anggota karang taruna dan komunitas arek kali londo. Saya terlibat dalam pelaksanaan demontrasi, saya bertugas selaku peraga untuk peertolongan pertama pada cidera olahraga. Proker kedua yaitu penyuluhan bahaya merokok, tempat dan waktu kegiatan dijadikan satu dengan proker yang pertama. Saya bertugas sebagai pemateri terkait penyampaian bahaa merokok.
3. Pokja Lansia
Pada pokja lansia, awalnya program kerjanya adalah pembentukan poyandu lansia. Pelaksanaan dimulai dengan pengumpulan foto copy KTP dan KK para lansia dengan usia lebih dari 60 tahun minimal 75 buah sebagai syarat administrartif. Akan tetapi, setelah pengumpulan foto copy KTP dan KK secara door to door selama satu bulan kami hanya mendapatkan 60 buah. Sehingga, kami melakukan FGD dan sosialisasi posyandu lansia pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 18.30 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir untuk menentukan keberlanjutan proker tersebut. Pada akhirnya kami dan warga memutuskan untuk melakukan kegiatan senam lansia yang terdiri dari senam anti diabetes dan anti stroke, dilanjutkan dengan simulasi 5 meja posyandu lansia dengan skreaning penyakit asam urat. saya terlibat sebagai pihak yang memberikan konsultasi dari hasil pemeriksaan tekanan darah dan asam urat. Kegiatan dilakukan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 jam 06.00 WIB di lapangan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir peserta sejumlah 37 warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05. Dalam proses pembentukan posyandu lansia tersebut, saya berperan sebagai penyaji pada sosialisasi pembentukan posyandu lansia serta moderator. Dan pada pelaksanaan kegiatan lansia saya bertugas sebagai sie perlengkapan dan bertugas pasa pos meja 5 terkait pemberian nutrisi.
4. Pokja Kesehatan Lingkungan
Pada Pokja kesehatan lingkungan terdapat dua Proker. Proker yang pertama yaitu kerja bakti. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Juli (RT 3), 30 Juli (RT 3 & RT 5), dan 13 Agustus 2017 (RT 04) jam 07.00 WIB di balai masing- masing RT, RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Saya terlibat dalam pembersihan rumput di dekat jalan raya, pengapuran tembok-tembok di samping jalan raya dan kegiatan kebersihan lainnya. Proker kedua yaitu perintisan bank sampah, dalam pelaksanaannya kami bekerja sama dengan Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Perintisan dimulai dengan sosialisasi awal pada hari Minggu, 23 Juli 2017 dimulai jam 18.30 di Gang 12 RT 05 RW VIII dan jam 19.30 di Gang 4 RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Saya berperan sebagai fasilitator pada acara tersebut. Pada akhirnya, yang bisa berjalan untuk merintis bank sampah sampai ada pengurusnya adalah RT 05, pengumpulan, pemilahan, dan penyetoran pertama dapat dilakukan pada tanggal 13 Juli 2017.

Analisis Kelebihan dan Kekurangan Program Kerja Simulasi 5 Meja Posyandu Lansia dan Pemeriksaan Asam Urat
Kelebihan dari program kerja Simulasi 5 meja posyandu lansia dan pemeriksaan asam urat yaitu: yang pertama adalah mengajarkan para calon kader posyandu lansia tentang gambaran pelaksanaan posyandu lansia, penerapan simulasi 5 meja membantu para kader memahami fungsi dan peran pada setiap meja atau pos. Pada meja pertama terdapat pendaftaran, meja kedua pengukuran berat badan, meja ketiga pemeriksaan tekanan darah dan asam urat, meja keempat konsultasi, dan meja kelima pemberian nutrisi. Kelebihan yang kedua, adanya cek darah yang yaitu cek asam untuk mengetahui kadar asam urat pada peserta yang hadir dalam kegiatan lansia. Cek Asam urat dilaksanakan karena dari hasil pengkajian primer, angka keluhan paling tinggi adalah asam urat. Kelebihan ketiga adalah aktifnya calon kader lansia, para kader mengajak warga lansia dengan sistem jemput bola, sehingga waktu pemeriksaan kesehatan dan pelaksanaan simulasi 5 meja posyandu lansia banyak warga lansia yang hadir kurang lebih 20 lansia. Kelebihan yang keempat yaitu peserta hadir tepat waktu, sehingga acara berjalan sesuai runddown yang sudah dibuat.
Kekurangan dari program kerja Simulasi 5 meja posyandu lansia dan pemeriksaan asam urat yaitu: yang pertama adal peserta yang hadir tidak semuanya lansia diatas 60 tahun, dari total 37 warga yang hadir jumlah lansia diatas 60 tahun sekitar 20. Kekurangan yang kedua yaitu terkait tempat pelaksanaan, karena dilaksanakan bersama kegiatan senam lansia tempat simulasi 5 meja posyandu lansia dan pemeriksaan asam urat juga dilaksanakan di tanah lapang, sehingga pelaksanaan menggunakan tikar yang digelar dilapangan. Kekurangan ketiga yaitu pada konsumsi yang diberikan, konsumsi berupa bubur kacang hijau, padahal kacang hijau dan santan merupakan salah satu makanan yang dapat mmeningkatkan kadar asam urat.

Saran untuk Keberlanjutan dan Perbaikan Program Kerja Simulasi 5 Meja Posyandu Lansia dan Pemeriksaan Asam Urat
Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan program kerja simulasi 5 meja posyandu lansia dan pemeriksaan asam urat, yang pertama yaitu perlu adanya koordinasi yang lebih terkait sosialisasi untuk melaksanakan kegiatan lansia, sehingga peserta lansia yang hadir bisa lebih banyak lagi. Saran yang kedua perlu adanya penentuan lokasi tempat yang lebih baik, untuk menunjang dalam pelaksanaan kegiatan. Saran yang ketiga pengorganisasian acara dan persiapan lebih disiapkan lagi, untuk mmengurangi kesalahan dalam pelaksanaan.
"


Sri Rezeki Amanda

pada : 15 August 2017


"Nama : Sri Rezeki Amanda
NIM : 131613143009

Nama Pokja :
1. Pokja Remaja
2. Pokja KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
3. Pokja Lansia
4. Pokja Kesehatan Lingkungan

I. Latar Belakang
Komunitas merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga dan mempunyai persamaan nilai serta perhatian (Sumijatun, 2006). Keperawatan komunitas sebagai suatu bidang keperawatan yang mendukung peran serta masyarakat secara aktif serta mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan perawatan kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok serta masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui proses keperawatan (Mubarak 2006). Dalam keperawatan komunitas terdapat sasaran kelompok yaitu kelompok khusus yang rentan mengalami suatu masalah kesehatan. Sasaran kelompok tersebut terdiri dari kelompok lansia, kelompok ibu hamil, kelompok balita, posyandu, dan pekerja (Effendi, Makhfudli 2009). Teradapat masalah yang sering ditemukan dalam kelompok masyarakat terutama yang terjadi di RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Pada kelompok KIA khususnya ibu menyusui (Buteki) belum optimal dalam menajalankan program ASI Eksklusif dan pada kelompok balita rentan terhadap keterlambatan perkembangan. Pada kelompok remaja, ditemukan masalah kesehatan yaitu banyaknya remaja yang mempunyai kebiasaan merokok dan remaja masih belum mengetahui cara pertolongan pertama pada cidera pada saat berolahraga. Pada kelompok lansia, belum adanya posyandu lansia yang menjadi wadah kegiatan lansia untuk meningkatkan derajat lansia. Pada kesehatan lingkungan, terdapat masalah belum dikelolanya sampah di wilayah tersebut dan kurangnya kegiatan untuk mendukung kesehatan lingkungan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 didapatkan data bahwa angka yang menjalankan program ASI eksklusif masih rendah yaitu sekitar 30% dari jumlah ibu yang memiliki bayi kurang dari 6 bulan dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak. Jumlah remaja sebanyak 61 orang (11 %) dari 557 orang. Pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%). Berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif dan masih belum ada kegiatan pelatihan pertolongan pertama cidera olahraga pada remaja setempat. Berdasarkan hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia, Ketua RW VIII menjelaskan bahwa Posyandu Lansia belum ada di RW VIII. Pada kelompok kesehatan lingkungan didapatkan data pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah kemudian diangkut oleh petugas, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan. Pembuangan air limbah sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai.
Permasalahan yang terjadi di wilayah RW VIII pada umumnya dikarenakan adanya beberapa faktor dan dapat berdampak buruk pada kelompok masyarakat tersebut. Pada kelompok KIA kurangnya kesadaran untuk memberikan ASI Eksklusif karena faktor pekerjaan ibu yang tidak dapat secara optimal memberikan ASI Eksklusif sehingga dapat berdampak pada Ibu, anak, dan keluarga seperti kesehatan dan ekonomi. Pada perkembangan anak disebabkan karena belum ada fasilitas untuk pemeriksaan sehingga penting dilakukan agar tercapai perkembangan anak sesuai umur. Pada kelompok remaja permasalahan merokok disebabkan karena kurangnya kesadaran terhadap kesehatan bagi perokok dan masih menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Padahal merokok dapat berdampak pada gangguan pada kesehatan yaitu timbulnya pennyakit terutama pada organ Paru-paru. Sedangkan masalah kurangnya pengetahuan tentang penanganan pertama pada cidera olahraga disebabkan oleh kurangnya penggalian informasi oleh remaja sehingga dapat berdampak pada cidera yang lebih parah. Pada kelompok lansia, posyandu lansia tidak dapat dilakukan karena kurangnya inisiasi masyarakat untuk dilakukan kegiatan tersebut dan berdampak pada kurangnya kesadaran lansia dalam menjaga kesehatan. Pada kelompok kesehatan lingkungan pemilahan sampah yang kurang dikarenakan adanya kurangnya peminatan masyarakata setempat untuk melakukan kegiatan tersebut sehingga berdampak pada pembuangan sampah yang berlebih.
Dari berbagai permasalahan diatas, direncanakan berbagai strategi program pada masing-masing kelompok berdasarkan data yang sudah dikaji. Program KIA/KB mengadakan demonstrasi cara memerah ASI, cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui, dan skrining tentang tumbuh kembang anak di PAUD. Program Remaja dilakukan penyuluhan bahaya rokok dan pelatihan pertolongan pertama cidera olahraga. Program lansia melakukan kegiatan Pembentukan kader, skrining kesehatan dan senam lansia. Program Kesehatan Lingkungan melakukan kegiatan kerja bakti dan perintisan bank sampah.
II. Program Kerja
1. Pokja KIA/KB
1) Demonstrasi cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui
Kegiatan pertama pada Pokja KIA adalah demonstrasi ASI eksklusif. Kegiatan ini diadakan pada hari kamis, 03 Agustus 2017 pukul 18.00 WIB diadakan pada saat acara arisan para ibu-ibu di RT 04 dirumah salah satu kader posyandu. Pada saat itu saya menjadi fasilitator yang mendampingi peserta demonstrasi dan memotivasi para peserta untuk terus mengikuti kegiatan. Materi yang disampaikan terdiri dari cara memerah ASI, cara penyimpanan ASI, dan edukasi nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui. Setelah itu dilanjutkan demonstrasi cara memerah ASI dan pijat laktasi, serta mempraktikan salah satu cara melancarkan ASI untuk merilekskani ibu menyusui. Para peserta cukup antusias dalam mengikuti acara ini karena pemateri cukup interaktif. Terbukti sebanyak 30 peserta ikut dalam acara tersebut dan tidak sedikit yang bertanya serta mampu menjawab pertanyaan dari moderator. Para peserta memang masih mengeluhkan ASI yang tidak dapat keluar, namun penyaji dan fasilitator berusaha menjawab berdasarkan ilmu yang telah didapat.
2) Skrining Tumbuh Kembang Anak di PAUD Dian Ceria
Program kedua KIA adalah skrining perkembangan anak menggunakan metode Denver II. Acara ini diadakan pada hari Rabu, 02 Agustus 2017 pukul 09.00 WIB di PAUD Dian Ceria. Kegiatan ini sangat menarik perhatian anak-anak PAUD karena akan diajak bermain. Kegiatan ini diikuti oleh 12 anak usia 4-6 tahun dan didampingi oleh bunda PAUD Dian Ceria. Saya terlibat dalam pendokumentasian dan ikut membantu teman-teman mengkondisikan anak-anak PAUD untuk tetap fokus pada kegiatan tersebut. Selama 30 menit 12 anak tersebut mengkuti penilaian menggunakan Denver II sesuai tahapan umurnya. Beberapa anak masih mengalami suspek keterlamabatan perkembangan. Hasil skrining semua anak sudah diserahkan kepada bunda PAUD dan dijelaskan cara penanganan agar keterlambatan tersebut tidak parah.


2. Pokja Remaja
1) Pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga
Program pertama pada pokja Remaja diadakan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah ± 30 peserta karang taruna dan perkumpulan “Arek Kali Londo” . Pelatihan pertolongan pertama pada cedera olahraga yang memfokuskan pada pemberian materi penanganan pertama cedera olaahraga dan demonstrasi. Progam ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang penanganan pertama pada cidera olahraga khususnya olahraga futsal. Pengetahuan yang diberikan adalah yang pertama konsep cedera dan penanganan pertama. Penanganan pertama terdiri dari RICE yaitu Rest (istirahat), seseorang dengan cedera olahraga harus terlebih dahulu diistirahatkan (imobilisasi) agar tidak terjadi cedera yang lebih parah. Kedua ICE (kompres dingin) yaitu kompres dengan es batu yang dimasukkan kedalam kain atau kompres dingin yang sudah dimodifikasi seperti ethyl clorid yang disemprotkan pada bagian cedera yang bertujuan untuk pembekuan perdarahan (tidak terjadi perdarahan yang berlebih). Ketiga Compression (penekanan) dilakukan dengan metode pembalutan atau pembebatan dengan bidai bertujuan untuk fiksasi dan meminimalisir perdarahan yang keluar dari tubuh. Keempat Elevation (peninggian) bertujuan untuk mengalirkan dan memperlancar peredaran darah. Setelah diberikan materi tentang cedera olahraga dan penanganan pertama selanjutnya dilakukan demonstrasi oleh pemateri. Demonstrasi yang dilakukan adalah penerapan prinsip RICE dalam memberikan pertolongan pertama pada cedera olahraga. Setelah itu mahasiswa menjadi fasilitator pada masing-masing kelompok yang terdiri dari 5-6 anggota. Fasilitator mendemonstrasikan kembali dan diberikan penjelasan lebih dalam lagi, setelah itu fasilitator mengevaluasi dengan memberikan kesempatan pada anggota kelompok untuk menerapkan prinsip RICE.
2) Penyuluhan Bahaya Rokok
Program kedua dari Pokja Remaja adalah penyuluhan bahaya rokok. Kegiatan ini dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 21.00 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang perwakilan dari karang taruna RT 03 dan RT 04 dan anggota perkumpulan “Arek Kali Londo”. Materi yang disampaikan adalah bahaya merokok, tanda dan gejala merokok, penyebab merokok, dan dampak bagi kesehatan. Setelah pemaparan materi selesai selanjutnya diadakan tanya jawab serta “sharing” antara perokok dan dampak yang dirasakan sekarang. Peserta cukup antusias mengikuti kegiatan sampai akhir dan tidak ada yang beranjak dari tempat penyuluhan karena mereka akan mengikuti kegiatan rutin “Arek Kali Londo”. Beberapa peserta dapat menjawab bahaya dari rokok. Namun sebelumnya program ini berkaitan dengan lomba selfie anti rokok. Saat pelaksanaan, program kerja lomba selfie anti rokok tidak dapat berjalan karena kurang peserta dikarenakan masih sangat susah sekali mengubah perilaku remaja untuk tidak merokok. Kurangnya motivasi remaja setempat ikut dalam kegiatan dikarenakan kesibukan sekolah dan kegiatan rutin yang lain.
3. Pokja Lansia
1) Pembentukan kader dan sosialisasi
Pada pokja Lansia, sebelumnya sudah dilakukan pendataan Lansia pada RT 03, RT 04, dan RT 05. Saya menjadi anggota pendataan di RT 05 untuk mengumpulkan KK dan KTP lansia yang berusia diatas 60 tahun. Ada beberapa lansia yang menginginkan diadakan acara posyandu Lansia sehingga perlu diadakan kegiatan posyandu lansia. Sebelum itu perlu dibenruk kader dan acara sosialisai dimasing-masing RT. Acara pengkaderan dan sosialisasi diadakan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 18.30 WIB di Balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang calon kader lansia dari RT 03 dan RT 05, acara ini dibuka dengan menjelaskan hasil temuan dari pengkajian lansia secara door to door yang sudah dilakukan mahasiswa. Hasil dari kegiatan ini adalah para kader setuju diadakan kegiatan lansia dan sudah mengikuti training yang diadakan mahasiswa dan kader diminta untuk memotivasi lansia agar ikut dalam pendataan karena jumlah lansia yang berumur diatas 60 tahun masih kurang.
2) Senam lansia dan pemeriksaan kesehatan
Program kedua lansia adalah senam lansia dan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan karena jumlah data lansia umur diatas 60 tahun masih kurang sehingga belum memenuhi syarat dari Puskesmas yaitu sebanyak 75 orang. namun mahasiswa tetap melakukan kegiatan senam lansia dan pemeriksaan kesehatan yang diadakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 jam 06.00 WIB di lapangan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 37 warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05 dibantu oleh para kader posyandu lansia. Acara dimulai dengan senam lansia terdiri dari senam stroke dan diabetes mellitus yang dipandu oleh mahasiswa selama kurang lebih 20 menit, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan. Meja 1 tempat pendaftaran, meja 2 pemeriksaan tekanan darah, meja 3 pemeriksaan asam urat, meja 4 konsultasi, dan meja 5 pemberian nutrisi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi pemeriksa tekanan darah di meja 2. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Kegiatan ini menghasilkan pemahaman lansia terkait kebugaran lansia dan nilai normal tekanan darah serta kadar asam urat
4. Pokja Kesehatan Lingkungan
1) Kerja Bakti
Program pertama kesling adalah kerja bakti. Kegiatan dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli, 30 Juli, dan 13 Agustus 2017 (RT 04) jam 07.00 WIB di balai masing- masing RT, RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kerja bakti pertama dilaksanakan tanggal 23 Juli 2017 di samping balai RT 03 dengan membersihkan halaman dan meratakan tanah lapangan. Saya bertugas untuk membersihkan rumput disamping jalan. Kerja bakti kedua 30 Juli 2017 di bagi menjadi 2 tempat yaitu di lingkungan RT 03 dan RT 05. Pada kerja bakti kedua saya bertugas untuk pengapuran tembok dipinggir jalan. Kerja bakti ketiga pada tanggal 13 Agustus 2017 di lingkungan RT 04 dengan membersihkan tanaman liar di wilayah tangkis, mengecat pembatas, dan merapikan balai RT. Saya bertugas untuk merapikan balai RT 04 dan pengecatan balai RT 04.
2) Perintisan Bank Sampah
Program kedua dari pokja Kesling adalah Perintisan Bank sampah bersama pihak Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Kegiatan ini diadakan dengan 3 tahap. Tahap pertama adalah sosialisasi awal perintisan bank sampah pada hari Minggu, 23 Juli 2017 pukul 18.30 di gang 12 RT 05 RW VIII. Saya bertugas menjadi fasilitator acara tersebut, dilihat dari peserta yang datang antusiasnya cukup tinggi untuk mengikuti perintisan bank sampah. Kegiatan ini bekerjasama dengan oihak BSIS dalam menyampaikan materi tentang bank sampah dan dilanjutkan testimoni perintis Bank Sampah sebelumnya. Tahap kedua dilaksanakan FGD pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 19.00 WIB untuk membahas kelanjutan respon warga untuk perintisan bank sampah. Tahap ketiga pelaksanaan bank sampah dilaksanakan di RT 05 pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.00. Kegiatan dimulai dengan pengumpulan, pemilihan, dan pencatatan sampah. Kemudian sampah ditimbang oleh mahasiswa dan calon pengurus bank sampah RT 05. Saya bertugas dalam penimbangan sampah yang dibawa masyarakat. Setelah semua ditimbang Bankeling datang untuk mengambil sampah yang ditimbang untuk dibawa ke BSIS.


III. Analisis Kelebihan dan Kekurangan Program Kerja
1. Kelebihan Program Penyuluhan Bahaya Merokok
Kelebihan dari program ini adalah pertama penyuluhan bahaya merokok ini sudah tepat sasaran pada remaja wilaya RW VIII karena dari hasil pengkajian masih banyak remaja di wilayah RW VIII yang merokok. Kedua adanya wadah untuk berkegiatan positif yaitu karang taruna dan perkumpulan “Arek Kali Londo” sehingga penyuluhan ini dapat masuk disela-sela acara tersebut. Ketiga, penanggung jawab acara penyuluhan mendatangkan seseorang yang sudah berhenti merokok dan berbagi pengalaman cara berhenti merokok serta dampak yang dirasakan dari merokok hingga berhenti merokok. Keempat, kehadiran remaja yang datang pada penyuluhan cukup banyak yaitu sekitar 30 peserta dari RT 03 dan RT 04 sehingga hal ini cukup memebrikan hasil yang positif agar remaja dapat mendengarkan dan memahami bahaya merokok. Kelima, remaja sebelumnya belum mendapatkan penyuluhan serupa sehingga hal ini menjadi hal baru bagi remaja setempat dan membuat remaja ingin mengikutinya. Keenam, penyuluhan ini sangat interaktif sehingga remaja yang mengikutinya tidak merasa bosan dan tetap mengikutinya sampai akhir. Ketujuh, mahasiswa sangat aktif untuk menginisiasi remaja untuk mengikuti penyuluhan dan memotivasi remaja untuk bertanya atau berdiskusi kepada mahasiswa dan peserta lain terkait bahaya merokok.
2. Kekurangan Program Penyuluhan Bahaya Merokok
Kekurangan dari Program bahaya merokok adalah pertama keadaan tempat dihalaman rumah warga yang kurang penerangan dan tidak ada tersedianya tempat menaruh LCD sehingga peserta cukup kesulitan untuk memperhatikan penyaji. Kedua, sebagian remaja lain berbicara cukup ramai sehingga mengganggu konsentrasi peserta lain. Ketiga jadwal sebelumnya berubah dari yang sudah dijadwalkan karena remaja di wilayah tersebut mengikuti kompetensi futsal. Keempat, sebelumnya penyuluhan bahaya rokok ini menjadi satu kesatuan dengan kegiatan lomba selfi anti rokok sebagai bentuk evaluasi penyuluhan. Namun, kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan karena remaja kurang memiliki keinginan untuk ikut dan banyaknya remaja yang tidak mempunyai waktu luang dan susah ditemui dikarenakan pagi sampai sore ada yang sekolah dan bekerja sedangkan pada malam hari mereka sibuk untuk mengerjakan tugas dan beristirahat serta terbentur agenda lomba dan kegiatan 17 agustusan yang diadakan di RT masing-masing.
IV. Saran Untuk Keberlanjutan dan Perbaikan Program
Berbagai hambatan banyak ditemui dari kegiatan penyuluhan bahaya rokok. Untuk itu saya menyarankan untuk selalu mempersiapkan kegiatan secara matang dan meningkatkan kelebihan dari program ini. Mencari solusi yang baik dan tepat dapat mengurangi kekurangan dari kegiatan penyuluhan ini. Memberikan motivasi yang terus menerus kepada remaja sehingga remaja memiliki kemauan untuk mengikuti kegiatan. Memberikan program yang dapat diterima oleh remaja yang berbasis kesehatan sehingga materi dapat dipahami dengan mudah. Mencari waktu yang tepat agar banyak remaja untuk dapat mengikuti kegiatan. Selalu berkoordinasi/berdiskusi dengan penanggung jawab atau koordinasi remaja diwilayah tersebut sehingga kegiatan dapat diadakan dengan sesuai kebutuhan remaja diwilayah tersebut. Menginformasikan kegiatan secara luas dan sosialisasikan di acara-acara perkumpulan remaja sehingga remaja tidak perlu mencari waktu luang untuk mengikuti kegiatan secara terpisah.
Daftar Pustaka
Effendi, Ferry, Makhfudli.2009.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan.Jakarta:Salemba Medika
Mubarak, Wahit, I.2006. Buku Ajar Keperawatan Komunitas 2.Jakarta:CV Sagung Seto
Sumijatun, dkk. 2006. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. Jakarta:EGC
"


Ayu Susilawati

pada : 15 August 2017


"Nama : Ayu Susilawati
Nim : 131613143008
Pokja :
1. Program kerja kesehatan ibu dan anak (KIA)
2. Program kerja kesehatan remaja
3. Program kerja kesehatan lingkungan
4. Program kerja kesehatan lansia
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan kebutuhan dan hak setiap insan agar dapat menjalani hidup yang produktif dan bahagia. Dalam mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal maka dibutuhkan perawatan kesehatan masyarakat atau keperawatan komunitas, dimana perawatan kesehatan masyarakat itu sendiri adalah bidang keperawatan yang merupakan perpaduan antara kesehatan masyarakat dan perawatan (Rahayu, 2015). Keperawatan komunitas merupakan pelayanan keperawatan professional yang ditujukan pada masyarakat dengan penekanan pada kelompok resiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan melalui pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan, dengan melibatkan klien sebagai mitra dalam perencanaan pelaksanaan dan evaluasi pelayanan keperawatan (Pradley, 1985). Menurut Herlina, 2013 Keperawatan kesehatan komunitas merupakan keperawatan yang berfokus pada perawatan kesehatan komunitas atau populasi dari individu keluarga dan kelompok. Adapun kelompok khusus atau kelompok resiko tinggi terdiri atas kelompok balita, kelompok ibu hamil, usia lanjut dan kelompok tertentu.
Kesehatan ibu dan anak merupakan komponen yang sangat penting dalam pembangunan bangsa karena jika ibu sehat maka akan menghasilkan bayi yang sehat yang akan menjadi generasi kuat (Effendi & Makhfudli, 2009). Pada kelompok ibu menyusui ditemukan banyak ibu tidak memberikan ASI Esklusif karena alasan bekerja. Pada kelompok balita didapatkan terlalu sering berinteraksi dengan handphone sehingga beresiko mengalami keterlambatan perkembangan. Kelompok Remaja juga merupakan kelompok umur yang rentan terkena masalah kesehatan. Kebiasaan merokok menjadi masalah utama serta kurangnya pengetahuan remaja terhadap pertolongan pertama cedera olahraga. Pada kelompok usia lanjut belum terbentuknya posyandu lansia yang mengakibatkan kesehatan lansia tidak terpantau dengan baik. Pada program kerja kesehatan lingkungan permasalahan sampah menjadi fokus utama kesehatan lingkungan di RW 08.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 dan hasil Forum Group Discussion (FGD) dengan kader Posyandu Balita RT 03, RT 04 dan RT 05 menjelaskan bahwa angka ASI ekklusif masih rendah dan belum ada pemeriksaan tentang perkembangan anak. Berdasarkan hasil FGD dengan anggota Karang Taruna hampir 90% remaja merupakan perokok aktif. Berdasarkan hasil data door to door pada 28 responden lansia didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia, sekitar 28,6% tidak mau mengikuti posyandu dan berdasarkan hasil wawancara dengan Pak RW VIII menjelaskan bahwa Posyandu Lansia belum ada di RW VIII. Pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas. Pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai.
Keperawatan kesehatan komunitas memegang peranan penting dalam memberikan pelayanan keperawatan di masyarakat. Melalui keperawatan kesehatan komunitas perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan primer, sekunder, dan tersier kepada ,masyarakat (Swarjana, 2016). Dalam hal ini, peran perawat dalam community as partner pada kelompok KIA-KB melaksanaka kegiatan pendidikan kesehatan cara memerah ASI, cara penyimpanan ASI dan edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui serta skrining tentang tumbuh kembang anak. Pada kelompok remaja dilakukan pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dan penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok. Pada kelompok lansia dilakukan pembentukan kader, skrining kesehatan dan senam lansia. Pada kelompok kesehatan lingkungan dilakukan kerjabakti dan perintisan bank sampah.

B. Program Kerja
1. Program kerja KIA
Program kesehatan ibu dan anak terdiri dari 2 program yakni:
a. Demonstrasi cara memerah asi, cara menyimpan asi peras (asip), dan edukasi nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui.
Dalam kegiatan tersebut saya sebagai penanggung jawab (pj) KIA. Saya terlibat dalam proses persiapan pembuatan pre planning dan SAK demonstrasi cara memerah asi, cara menyimpan asi peras (asip), dan edukasi nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui. Acara dilaksanakan pada tanggal 03 Agustus 2017 pukul 18.00 – 18.30 dirumah salah satu kader posyandu RT 04 RW 08 bersamaan dengan kegiatan arisan dasawisma RT 04. Pada pelaksanaanynya saya sebagai moderator yang memimpin acara diskusi sebelum acara arisan dimulai.
b. Skrining perkembangan anak
Kegiatan skrining dilaksanakan pada tanggal 02 agustus 2017 di Paud Dian Ceria pukul 09.00-10.00. Pada kegiatan tersebut saya terlibat dalam pembuatan pre planning dan pembuatan satuan acara kegiatan. Pada pelaksanaannya saya sebagai moderator yang membuka acara kegiatan sekaligus sebagai fasilitator. Fasilitator bertugas`sebagai pemeriksa yakni melakukan skriining kepada balita menggunakan kuisioner DENVER II dan DDST Kit. Acara tersebut diikuti oleh 13 peserta dari TK A dan B. Seluruh fasilitator bertanggung jawab untuk memeriksa 2 anak.
2. Program kerja remaja
Program kerja remaja terdiri dari 3 kegiatan yakni pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dan penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok. Kegiatan dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 23 Juli 2017 jam 20.00 -22.00 di rumah salah satu anggota karang taruna RT 05. Dalam kegiatan ini saya bertanggung jawab sebagai Moderator dan Fasilitator. Moderator membuka dan memandu acara serta fasilitator saya mendampingi peserta mempraktekkan cara pertolongan pertama pada cidera olahraga. Pada pelaksanaannya acara di bagi menjadi 2 tahap. Tahap 1 dihadiri oleh komunitas “arek kalilondo” dan kedua dihadiri oleh anggota remaja RT 04 di balai RT 04. Pelaksanaan bahaya penyuluhan bahaya merokok dan pelatihan pertongan pertama pada cidera olahraga dikemas menjadi satu karena terkendala kesulitan untuk mengumpulkan para remaja. Sedangkan lomba selfie anti rokok belum terlaksana.
3. Program kerja lansia
Pada kelompok lansia terdapat 3 program yaitu pembentukan kader, skrining kesehatan dan senam lansia. Pada proses pembuatan kader saya berperan mulai dari persiapan pembentukan posyandu yakni door to door di RT 1 dan RT 2 RW 08 mengumpulkan ktp dan kk warga yang berumur diatas 59 tahunsebagai persyaratan pembentukan posyandu.program selanjutnya skrining kesehatan yang dilaksanakan setelah senam lansia yakni berlangsung hari minggu tanggal 12 Agustus 2017 pukul 06.00 – 10.00. dalam senam lansia saya bertanggung jawab sebagai instruktur senam sedangkan dalam pemeriksaan kesehatan yakni cek asam urat saya bertugas di meja 3 yakni pemeriksa asam urat.
4. Program kerja kesehatan lingkungan
Pada kelompok kesehatan lingkungan terdapat 2 kegiatan kerjabakti dan perintisan bank sampah.
a. Kerja bakti
Program kerja bakti dilakukan selama 3 kali pada tanggal 23 juli, 30 juli di RT 05 dan 13 agustus di RT 04 selama kegiatan tersebut saya ikut membantu kegiatan warga membersihkan linggkungan disekitar mengapuri pagar dan membersihkan rumput di pinggir jalan.
b. Perintisan bank sampah
Dalam upaya pembentukan bank sampah diawali dengan kegiatan sosialisasi. Sosialisasi dilakukan 3 kali di masing masing RT dengan bergabung di kegiatan warga. Sosialisasi bank sampah yang pertama dilaksanakan pada tanggal 23 Juli 2017 di rumah bapak RW 08 dengan mendatangkan pemateri dari Bank Sampah Induk Surabaya (BSIS). Dalam acara tersebut saya bertugas sebagai moderator yang memimpin acara sosialisasi. Sosilisasi berikutnya dilakukan di pengajian ibu ibu RT 05. Setelah dilakukan sosialisasi selanjutnya diadakan proses pengumpulan sampah dan penimbangan sampah yang dilaksanakan pada tanggal 13 agustus 2017 dirumah salah satu kader Jumantik RT 05. Dalam kesempatan ini saya ikut membantu memilih dan memilah sampah yang bis adikumpulkan untuk ditabung.

C. Analisis Kekurangan dn Kelebihan Demonstrasi cara memerah asi, cara menyimpan asi peras (asip), dan edukasi nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui.
1. Kelebihan program.
Kolaborasi interdisiplin sangat penting dalam pelaksanaan dan kefektifan sebuah program. Menurut saya kelebihan dari program ini adalah mahasiswa mampu berkolaborasi dengan baik dengan pihak yang ada di komunitas yakni dengan kader posyandu , ibu RT, dan masyarakat di RT 03, 04, dan 05 sehingga acara ini bisa terlaksana dengan baik. Berikut juga merupakan kelebihan program tersebut diantaranya :
a. Kader balita sangat memberikan dukungan untuk pengadaan kegiatan mahasiswa yang bertujuan memotivasi para ibu melakukan ASI eksklusif.
b. Para ibu yang mengikuti arisan menerima mahasiswa dan mau ikut serta untuk memotivasi keluarga atau tetangga yang sedang menyusui agar bisa tercapai ASI eksklusif.
c. Kader balita memfasilitasi mahasiswa mulai dari persipan tempat hingga pelaksanaan
d. Program yang diadakan merupakan solusi dengan permasalahan yang ditemukan sehingga terdapat kesesuaian anatara masalah dan solusi
e. Acara tidak menoton karena selain edukasi juga terdapat demonstrasi secara langsung yang menarik perhatian peserta
f. Pemateri dan simulator totalitas dalam penyajian materi maupun saat mempraktekkan cara memerah asi sehingga peserta mudah memahami
2. Kekurangan program
a. Pelaksanaan kegiatan kurang efektif karena waktu penyuluhan bersamaan dengan pembayaran arisan
b. Ada sebagian ibu yang tidak dapat menghadiri kegiatan yang diselenggarakan mahasiswa karena kesibukan
c. Ada beberapa ibu yang tidak mendengarkan karena mencatat atau membayar arisan
d. Sasaran dari penyuluhan kurang tepat karena sebagian peserta bukan ibu menyusui namun demikian tidak mengurangi antusiasme peserta saat mendengarkan
e. Pada saat kegiatan pantia belum bisa mendatangkan praktisi atau konselor asi yang lebih kompeten untuk menyampaikan materi
f. Pada saat kegiatan tidak ada pendamping pelaksana baik dari pembingbing akademik mapun pembimbing klinik sehingga pada saat sesi diskusi jawaban yang diberikan sebatas pengetahuan yang dimiliki mahasiswa.

D. Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan pokja
1. Diharapkan mahasiswa sebagai penyelenggara kegiatan dapat memfollow-up kelompok ibu menyusui pasca kegiatan tentang kendala dalam pemberian asi esklusif.
2. Diharapkan masyarakat, baik secara individu maupun kelompok, berperan serta untuk meningkatkan kemampuan hidup sehatnya dalam hal ini dukungan dari keluarga, dukungan masyarakat pada kelompok ibu menyusui agar turut mendukung program ASI Esklusif.
3. Kader Pokjakes KIA dari warga diharapkan mampu meneruskan penyuluhan dan pendidikan kesehatan terkait kesehatan ibu dan balita.
4. Puskesmas mempunyai beberapa program kerja dan sebagai pemanjang program kegiatan puskesmas, diharapkan adanya kerjasama dan bimbingan secara intensif dari puskesmas untuk mahasiswa maupun kelompok kerja kesehatan di masyarakat.

Sumber :
Swarjana, I Ketut.2016. Keperawatan Kesehatan Komunitas.Yogyakarta: CV Andi Offset
Hermilawati.2013. Pengantar Ilmu Keperawatan Komunitas. Sulawesi : Pustaka As Salam
Effendi,. Makhfudli.2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktek dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta: EGC
Rahayu. 2015. Gambaran Pola Pemberian Asi Pada Ibu Bekerja Pada Komunitas Pendukung Asi. Skripsi: Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia

"


meifianto agus eko kusumo

pada : 15 August 2017


"UJIAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
Nama: Meifianto Agus Eko Kusumo
NIM: 131613143037
Bertugas dalam pokja : KIA-Screening Tumbuh Kembang

1. Latar Belakang
Keperawatan kesehatan komunitas merupakan bidang keilmuan yang ditujukan untuk mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan ilmu keperawatandengan ilmu kesehatan masyarakat untuk ditujukan pada masyarakat (ANA. 2004). Pelayanan keperawatan kesehatan komunitas ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat sebeagi suatu kesatuan yang utuh melalui proses asuhan keperawatan (Depkes 2006). Kelompok yang tidak terkait dengan instansi adalah posyandu, kelompok balita, kelompok ibu hamil, usia lanjut, dan pekerja tertentu (Effendi & Makhfudli 2009). Sebagai upaya dalam melakukan upaya peningkatan kesehatan komunitas di kelurahan Medokan semampir, mahasiswa melakukan pengkajian dengan windshield survey secara door to door di wilayah RW 8. Dari hasil pengkajian tersebut didapatkan data-data yang nantinya menjadi dasar kuat untuk dilakukan beberapa program kerja guna meningkatkan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 04 Juli – 09 Juli 2017 di wilayah RW8, pada kelompok ibu ditemukan keluhan hipertensi pada kehamilan 33,3%, cakupan penggunaan KB 62,5%, 70% sudah memiliki buku KIA, sedangkan dari kelompok balita cakupan imunisasi sebesar 64%, keluhan gizi balita pada tahun 2016-2017 terdapat 2 bayi yang tergolong memiliki berat badan dibawah garis merah (BGM) dan terdapat 1 balita yang menunjukkan angka penimbangan di bawah garis kuning (BGK). Pemeriksaan ibu Hamil yaitu menunjukkan seluruh ibu hamil di RW 08 periksa di Bidan atau puskesmas, dua ibu hamil di wilayah RW 08 masuk dalam kategori kehamilan resiko tinggi karena ibu saat ini berusia 41 tahun dan mengalami anemia. Angka keikutsertaan KB dari 301 pasangan usia subur di RW 08 terdapat 20.4 % yang tidak menjadi akseptor KB. Data yang didapatkan dari total 488 KK mencakup RT I dan II di RW 08 Kelurahan Medokan Semampir didapatkan responden ibu hamil sebanyak 7 orang dimana 1 diantaranya memiliki resiko tinggi karena usia ibu lebih dari 35 tahun dan ibu menderita anemia. Jumlah balita sebanyak 75 balita dimana 8 % nya jarang datang ke posyandu. Dari data jumlah balita tersebut terdapat 1 balita yang pada kartu KMS masuk kategori Bawah Garis Kuning (BGK), yang berada di RT 02. Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ditemukan masalah rendahnya kesadaran warga tentang pentingnya ASI eksklusif dan belum adanya pemantauan terhadap perkembangan anak.
Selanjutnya, Karang Taruna di RW VIII Kelurahan Medokan Semampir masih berjalan di sebagian RT saja belum ada koordinasi karang taruna RW. Hal ini dikarenakan karang taruna baru dibentuk pada bulan Juni 2017 dan masih penguruss baru. Karang Taruna setiap RT sudah berjalan dengan baik, akan tetapi masih ada sebagian dari remaja yang tidak mengikuti kegiatan tersebut. Kondisi tersebut dapat mempersulit implementasi yang akan diberikan oleh tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil survei Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga di wilayah RT 03, RT 04, dan RT 05 di RW 08 pada Tanggal 05-08 Juli 2017 jumlah remaja sebanyak 61 orang dari 557 anggota keluarga di RW VIII RT 03, RT 04, RT 05. Sedangkan yang dapat di survei yaitu 23 orang dari 267 anggota keluarga (29 %). Dari 23 orang tersebut semuanya masih sekolah (100%). Remaja yang bekerja dan sambil sekolah sebanyak 8 orang (34%). pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (61%) sisanya tidak aktif mengikuti kegiatan tersebut yaitu sebanyak 9 orang (39%). Remaja yang merokok hanya 1 orang (4%). Namun data tersebut hanya didapat dari data door to door saja, pada saat pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion) didapat banyak remaja yang putus Sekolah. Dari penuturan anggota karang taruna masih banyak perilaku menyimpang remaja di RW 08 khususnya di RT 03, RT 04, dan RT 05 yaitu merokok (90%) dan meminum alkohol (10%) . Dan ada 19 anggota karang taruna yang masih aktif dari 61 remaja (12%). Adapun kegiatan yang rutin dilakukan oleh kelompok yang tergabung di perkumpulan “Arek Kali Londo”adalah bermain olahraga futsal. Namun, mereka belum sepenuhnya memahami penanganan pertama apabila terjadi cedera saat bermain futsal. Program Remaja ditemukan masalah kurangnya kesadaran mengenai dampak rokok dan belum adanya kegiatan Karang Taruna yang berhubungan dengan kesehatan.
Selanjutnya, hasil pengkajian data awal tanggal 5-8 Juli 2017, di RT 03, RT 04, dan RT 05 di RW 08 Kelurahan Medokan Semampir Kecamatan Keputih Kota Surabaya didapatkan hasil 28 responden lansia dan hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di RW 08 didapatkan hasil bahwa sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia di RW 08, sekitar 28,6% tidak mengikuti posyandu. Sedangkan, untuk penyakit yang paling banyak diderita oleh lansia adalah asam urat sekitar 6 orang (49,5%), diabetes melitus sekitar 5 orang (35,7%), hipertensi sekitar 2 orang (14.3%), dan maag sekitar 1 orang (7.1%), kolesterol sekitar 1 orang (7.1%), asma sekitar 1 orang (7.1%), gatal-gatal sekitar 1 orang (7.1%). Program Lansia ditemukan masalah belum terbentuknya posyandu lansia dan tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan kelompok lansia.
Dan yang terahir, berdasarkan data yang didapatkan dari pengkajian tanggal 5 – 8 Juli 2017, di lingkungan RT 03, RT 04, dan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya dari 79 KK terutama pengkajian tentang lingkungan fisik, pembuangan sampah, limbah, dan penyakit yang paling sering di derita warga. Sebagian besar rumah memiliki ventilasi, luas ventilasi < 10% dari luas lantai sebanyak 25,6%. Warga RT 03, RT 04, dan RT 05 RW VIII sekitar 94,9% sudah memiliki jamban sendiri, sedangkan 5,1% warga yang tidak memiliki jamban. Pembuangan sampah sebanyak 92,3% warga memilih membuang sampah pada tempat sampah, namun untuk pemilihan sampah belum dilakukan dan kemudian diangkut oleh petugas. Pembuangan air limbah, sebanyak 53,8% warga masih membuang air limbah ke sungai. Sungai sebelah utara sepanjang RT 03, RT 04, dan RT 05 tampak kotor, air sungai berwarna hitam. Masalah kesehatan yang paling banyak diderita warga RT 03, RT 04, dan RT 05 6 bulan terakhir adalah ISPA sebesar 28%, diare (17%), DM sebesar 11%, penyakit kulit (gatal) sebesar 8%.
Kondisi atau fakta tersebut di atas kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya disebabkan karena penduduk memiliki keterbatasan ekonomi, kurangnya kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingya kesehatan lingkungan di sekitarnya serta dampaknya terhadap kesehatan. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu di RW VIII terdapat suatu paguyupan untuk memanfaatkan sampah namun aktivitas paguyupan tersebut sudah terhenti lama, untuk pengeloaan sampah (bank sampah) di RW VIII dari dulu memang tidak ada. Program Kesehatan lingkungan di RW VIII ditemukan masalah belum adanya kegiatan untuk pengelolaan sampah dan terhentinya kegiatan kerja bakti.
Dari uraian data diatas, dapat disimpulakan banyaknya permasalahan yang terjadi di wilayah RW8 Kelurahan Medokan semampir. Oleh karena itu mahasiswa melakukan serangkaian kegaiatan program kerja (POKJA) dalam masing-masing bidang yang ditujukan pada masyarakat resiko tinggi yang tinggal di wilayah RW 8 medokan semampir untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

2. Program Kerja
POKJA KIA/KB
1) Demonstrasi cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI serta edukasi tentang nutrisi yang tepat untuk ibu menyusui
Program Kerja cara memerah ASI dilakukan pada hari Kamis, 3 Agustus 2017 jam 18.00 WIB, acara dilaksanakan sebelum acara arisan ibu-ibu dasawisma di salah satu rumah warga RT 04 yang merupakan salah satu kader posyandu balita. Kegiatan diikuti sejumlah 30 peserta ibu-ibu dan dimulai dengan menggali pengetahuan peserta tentang cara memerah ASI dan cara penyimpanan ASI, menjelaskan cara memerah dan menyimpan ASI, dan menjelaskan nutrisi yang baik untuk ibu menyusui. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi sie perlengkapan. Adapun mediayang digunakan dalam kegiatan ini aadalah: kabel roll, proyektor, manequine payudara, dan leaflet. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari demonstrasi didapatkan pengetahuan ibu-ibu bertambah ditunjukkan dengan kemampuan ibu-ibu dalam menjawab pertanyaan saat dievaluasi.
2) Skrining tentang tumbuh kembang anak
Program kerja skrinning tumbuh kembang dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 09.00 WIB di Paud Dian Ceria di RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 12 anak usia 4-6 tahun dan dimulai dengan perkenalan, pemeriksaan tumbuh kembang menggunakan kuisioner DENVER II dan ditutup dengan foto bersama. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta paud terlihat sangat antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi documenter terhadap pemeriksaan tumbuh kembang anak dengan menggunakan kuisioner DENVER II. Dikarenakan ruangan kelas yangdigunakan sebagai ruang pemeriksaan cukup sempit untuk memeriksa 12 anak dan media yang digunakan juga terbatas, maka pemeriksa terlihat kebingungan dengan proses jalannya pemeriksaan DENVER II. Hasil dari skrining didapatkan 3 anak dengan suspect keterlambatan tumbuh kembang dan 1 untestable.

POKJA REMAJA
1) Pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga
Program kerja dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 15.00 WIB di rumah warga RT 03 wilayah Tangkis dan di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah ± 30 peserta karang taruna dan dimulai dengan memberikan materi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, simulasi pertolongan pertama penanganan cidera olahraga, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator kelompok kecil pelatihan pertolongan pertama pada cidera olahraga dengan metode RICE. Proses kegiatan berlangsung secara baik, peserta sangat aktif bertanya dan menggali ilmu dari fasilitator. Kegiatan secara garis besar berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana pertolongan pertama pada cidera olahraga.
2) Penyuluhan bahaya merokok dan lomba anti rokok
Program kerja dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli 2017 jam 21.00 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang perwakilan dari karang taruna RT 03 dan RT 04 dan anggota perkumpulan “Arek Kali Londo” dan dimulai dengan pemaparan materi tentang bahaya merokok, tanya jawab, dan evaluasi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi sie perlengkapan. Adapun media yang diperlukan adalah alat pengeras suara, kabel roll, proyektor, dan juga leaflet. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pelatihan pemahaman warga bertambah tentang bagaimana cara berhenti merokok yang membutuhkan usaha dan tekad yang kuat dari diri sendiri.
POKJA LANSIA
a. Pembentukan kader dan sosialisasi
Program kerja dilakukan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 18.30 WIB di balai RT 04 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 5 orang calon kader lansia dari RT 03 dan RT 05 dan dimulai dengan pemaparan hasil temuan yang didapatkan dari data pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa, penyampaian sosialisasi pembuatan posyandu lansia, dan tanya jawab. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi sie perlengkapan. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan pembentukan kader dan sosialisasi pembentukan posyandu lansia adalah persetujuan dari calon ibu-ibu kader posyandu lansia dan pemahaman bertambah tentang pelaksanaan program posyandu lansia.
b. Senam lansia dan pemeriksaan kesehatan
Program kerja dilakukan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 jam 06.00 WIB di lapangan RT 05 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti sejumlah 37 warga dari RT 03, RT 04, dan RT 05 dibantu oleh para kader posyandu lansia. Acara dimulai dengan senam lansia: senam stroke dan diabetes mellitus yang dipandu oleh mahasiswa, dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan. Meja 1 tempat pendaftaran, meja 2 pemeriksaan tekanan darah, meja 3 pemeriksaan asam urat, meja 4 konsultasi, dan meja 5 pemberian nutrisi. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi bagian sie perlangkapan dan fasilitator pemeriksaan kesehatan. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Banyak peserta yang dating untuk memeriksakan diri ke lokasi. Hasil dari kegiatan senam lansia dan pemeriksaan kesehatan adalah membantu para lansia untuk meningkatkan kebugaran dan mencegah masalah kesehatan khususnya pada lansia dengan peningkatan kadar asam urat.
POKJA KESEHATAN LINGKUNGAN
1) Kerja bakti
Program kerja dilakukan pada hari Minggu, 23 Juli, 30 Juli, dan 13 Agustus 2017 (RT 04) jam 07.00 WIB di balai masing- masing RT, RW VIII Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan diikuti oleh warga RT 03, RT 04, dan RT 05. Kerja bakti pertama dilaksanakan tanggal 23 Juli 2017 di lingkungan RT 03. Lokasi kerja bakti di samping balai RT 03 dengan membersihkan halaman dan meratakan tanah lapangan. Kerja bakti kedua 30 Juli 2017 di bagi menjadi 2 tempat yaitu di lingkungan RT 03 dan RT 05 dengan mengecat pagar pembatas dan mendirikan umbul-umbul dalam rangka hari kemerdekaan. Kerja bakti ketiga pada tanggal 13 Agustus 2017 di lingkungan RT 04 dengan membersihkan tanaman liar di wilayah tangkis, mengecat pembatas, dan merapikan balai RT. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan kerja bakti adalah lingkungan menjadi lebih bersih dan rapi sehingga masalah kesehatan lingkungan dapat dicegah.
2) Perintisan bank sampah
Program kerja dilakukan dengan 3 tahap. Pertama dilaksanakan sosialisasi awal perintisan bank sampah pada hari Minggu, 23 Juli 2017 dimulai jam 18.30 di Gang 12 RT 05 RW VIII dan jam 19.30 di Gang 4 RT 04 RWVIII. Kegiatan bekerja sama dengan pihak BSIS diikuti oleh Warga di RT 03, RT 04 dan RT 05 RW VIII kel. Medokan Semampir. Acara dimulai dengan penyampaian materi tentang bank sampah bekerja sama dengan pihak BSIS, tanya Jawab tentang perintisan bank sampah, berbagi cerita dengan para pengurus bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02 mengenai perintisan bank sampah di RT 01 RW VIII dan RW 02. Tahap kedua dilaksanakan FGD pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 jam 19.00 WIB untuk membahas kelanjutan respon warga untuk perintisan bank sampah. Hasil dari FGD didapatkan semua RT setuju untuk didirikan bank sampah, selanjutnya dilakukan pembentukan 3 pengurus : ketua, bendahara, sekretaris. Dari RT 05 sudah ada nama calon pengurus bank sampah, sedangkan untuk RT 03 dan RT 04 belum ada. Tahap ketiga pelaksanaan bank sampah dilaksanakan di RT 05 pada hari Minggu, 13 Agustus 2017 pukul 10.00. Kegiatan dimulai dengan pengumpulan, pemilihan, dan pencatatan sampah. Kemudian sampah ditimbang oleh mahasiswa dan calon pengurus bank sampah RT 05. Setelah semua sampah di timbang dan dicatat pengambilan sampah dilakukan oleh pihak BSIS dengan menggunakan kendaraan bangkeling. PJ kesehatan lingkungan dan calon ibu-ibu pengurus bank sampah RT 05 menuju kantor BSIS untuk mendapatkan penjelasan pemilihan sampah dan proses pemilihan sampah secara langsung. Pada saat kegiatan, saya berkesempatan menjadi fasilitator acara. Proses kegiatan berjalan dengan lancar, peserta antusias mengikuti kegiatan, dan peserta mengikuti acara sampai dengan selesai. Hasil dari kegiatan sosialisasi awal adalah warga lebih memahami tentang sampah, manfaat sampah, cara pemilahan sampah, dan kegiatan untuk mengurangi dampak sampah dengan melakukan perintisan bank sampah.

3. Analisis Program Kerja Skrinning Tumbuh Kembang

Kelebihan: program kerja skrinning tumbuh kembang ditujukan untuk melakukan serangkaian tes untuk melihat kemampuan anak anak peserta paud untuk menunjukan tahap perkembangan. Pada pelaksanaan pre-planning, program kerja ini sudah mendapatkan persetujuan untuk dilakukan oleh mahasiswa, persetujuan diberikan oleh ketua RW8 dan ketua RT setempat. Tujuan dilakukan skrinning ini adalah untuk memeriksa tahap tumbuh kembang anak anak peserta didik paud. Program kerja ini juga telah didukung oleh pemilik paud. Program berjalan dengan baik karena kesediaan dari anak anak peserta paud yang mau dengan senang hati diperiksa oleh fasilitator mahasiswa.
Kekurangan: program kerja tumbuh kembang yang dilaksanakan di paud dian ceria ini memiliki beberapa kendala dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah: ruang kelas yang digunakan dalam proses pemeriksaan DENVER II sempit dan kurangnya media pemeriksaan. Selanjutnya pserta yang diperiksa sangat gaduh dan trekadang merusak konsentrasi peserta lain yang sedang dilakukan pemeriksaan. Selanjutnya, didapatkan beberapa peserta didik juga diketahui berumur lebih dari 5 tahun yang bukan masa pendidikan paud. Selanjutnya ada seorang siswa yang menolak untuk melakukan perintah dalam tugas perkembangan DENVER II.

4. Saran untuk keberhasilan program kerja skrinning tumbuh kembang
Adanya keterbatasan dalam melaksanakan program kerja tumbuh kembang menjadi salah salah satu factor yang memengaruhi keberhasilan kegiatan. Dengan adanya saran, diharapkan proses skrinning selanjutnya akan berjalan lebih baik dan efektif. Beberapa saran yangmungkin bermanfaat antara lain:
1) Bagi Paud
(1) Menyediakan ruangan yang lebih luas dan cukup untuk menampung banyaknya anak dan pemeriksa yang melakukan skrinning.
(2) Bersedia memanggil nama anak anak secara berurutan satu-persatu untuk dilakukan pemeriksaan Denver secara berurutan.
(3) Melakukan seleksi dalam proses penerimaan peserta didik terutama meliputi usia
2) Bagi mahasiswa
(1) Menyediakan media yang cukup untuk proses pemeriksaan tumbuh kembang
(2) Memanggil peserta pemeriksaan secara berurutan untuk menghindari kegaduhan saat proses pemeriksaan

"


Siti Fatonah

pada : 15 August 2017


"Nama mahasiswa : Siti Fatonah
NIM : 131613143052
Pokja : Lansia – Senam Lansia

Latar belakang :
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual secara komprehensif (Riyadi, 2007).
Keperawatan kesehatan komunitas merupakan tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan ketrampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat (ANA 2004).
Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai masalah keperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Effendi & Makhfudli 2009).
Asuhan keperawatan diberikan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang mengalami kelemahan fisik maupun mental, kurang pengetahuan, kurang kemauan, serta kurang kemampuan melaksanakan kegiatan seari-hari. keperawatan kesehatan komunitas ditekankan pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi, misalnya usia lanjut, balita, ibu hamil, dan pekertatertentu (Effendi & Makhfudli 2009).
Lansia (growing old) adalah seseorang yang karena penambahan usianya mengalami perubahan biologis, fisik dan sosial. Perubahan yang terjadi pada lansia merupakan suatu proses yang wajar bagi manusia. Perubahan pada semua organ dan jaringan tubuh sudah terjadi sejak awal kehidupan hingga lanjut usia (Ismayadi, 2004).
Pada kelompok kerja lanjut usia di RW 8 Kelurahan Medokan Semampir, ditemukan beberapa masalah. Berdasarkan data yang diperoleh dari pengkajian awal pada tanggal 5-8 Juli 2017 dan diskusi bersama dengan perwakilan warga Medokan Semampir Indah pada 12 Juli 2017, didapatkan informasi bahwa di wilayah RW 8 Medokan Semampir belum terbentuk posyandu lansia, sehingga kesehatan lansia belum terkontrol dengan baik. Kelompok kerja lansia di wilayah RW 8 belum memiliki kegiatan rutin dan belum pernah terpapar informasi, berupa penyuluhan kesehatan tentang kesehatan lansia. Sebagian besar lansia di RW 8 Kelurahan Medokan Semampir mengalami asam urat sekitar 6 orang (49,5%), diabetes melitus sekitar 5 orang (35,7%), hipertensi sekitar 2 orang (14.3%), dan maag sekitar 1 orang (7.1%), kolesterol sekitar 1 orang (7.1%), asma sekitar 1 orang (7.1%), gatal-gatal sekitar 1 orang (7.1%).
. Hasil data door to door pada responden lansia yang disampling, didapatkan sekitar 53,6% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia jika ada dan dilaksanakan di akhir minggu.
Berdasarkan data yang diperoleh dari serangkaian proses pendataan awal berupa door to door, wawancara, focus group discussion, dan pertimbangan perangkat desa, disepakati akan dibentuk posyandu lansia di RW 8 Kelurahan Medokan Semampir. Kegiatan ayang akan dilakukan adalah pembentukan kader beserta pelatihan, koordinasi dengan pihak-pihak terkait, serta kegiatan posyandu lansia (senam dan pemeriksaan kesehatan).

Program pokja :
Pada kelompok kerja lansia terdapat program kerja berupa perintisan posyandu lansia. Persyaratan awal posyandu lansia adalah terbentuk kader, pengumpulan fotocopy KTP dan KK para lansia (usia lebih dari 60 tahun) minimal sebanyak 75 warga, serta minimal posyandu lansia sudah berjalan selama setahun sehingga baru bisa didanai oleh puskesmas. Persyaratan ini belum dapat dipenuhi, sehingga pada akhirnya, belum dapat dibentuk posyandu lansia di RW 8 Kelurahan Medokan Semampir. Namun, mahasiswa dan beberapa tokoh masyarakat yang terkait sudah berusaha sebaik mungkin demi terlaksananya program ini.
Pada pelaksanaan perintisan posyandu lansia, terbagi bebepapa kegiatan, yaitu:
1) Focus group discussion (FGD) dan pembentukan kader lansia
Focus group discussion kelompok kerja lanjut usia dilaksanakan pada hari Rabu, 12 Juli 2017 pukul 19.00 di Balai RT 4. Kegiatan focus group discussion diikuti oleh calon kader lansia yang sebelumnya telah ditunjuk oleh masing-masing RT. Metode kegiatan ini adalah diskusi. Pada kegiatan FGD, disepakati akan berusaha dibentuk posyandu lansia.
2) Kegiatan pelatihan kader posyandu lansia
Pelatihan kader posyandu lanjut usia dilaksanakan pada hari Rabu, 2 Agustus 2017 pukul 18.30 di Balai RT 4. Kegiatan ini diikuti oleh calon kader posyandu lansia. Pelaksanaan kegiatan ini dipimpin oleh mahasiswa. Metode yang digunakan untuk kegiatan ini adalah ceramah dan diskusi. Para kader dijelaskan tentang tujuan pelaksanaan posyandu lansia, langkah pelaksanaan posyandu lansia, tugas dan fungsi pengurus dan posyandu, frekuensi kegiatan dalam posyandu lansia, jenis kegiatan posyandu lansia, dan persyaratan untuk proses membentuk posyandu lansia. Setelah selesai mengikuti kegiatan pelatihan kader posyandu lansia, para kader diharapkan mampu menjadi pengurus posyandu lansia yang handal sehingga mampu mengkontribusikan dalam bentuk sikap maupun perilaku pada lingkungan di RW VIII Kelurahan Medokan Semampir.
3) Senam lansia
Senam lansia dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 pukul 06.00 di lapangan RT 3. Kegiatan ini diikuti oleh lansia, kader, beserta beberapa warga lainnya. Pelaksanaan kegiatan ini dipimpin oleh mahasiswa. Jenis senam yang dilakukan adalah senam anti diabetes dan anti stroke. Melalui kegiatan senam ini, diharapkan agar lansia mulai memiliki keinginan dan motivasi serta kemauan untuk melakukan olahraga secara rutin.
4) Pemeriksaan kesehatan lansia
Pemeriksaan kesehatan lansia dilaksanakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017 setelah kegiatan senam lansia. Kegiatan ini diikuti oleh lansia, kader, beserta beberapa warga lainnya. Pelaksanaan kegiatan ini difasilitasi oleh mahasiswa. Jenis pemeriksaan kesehatan yang dilakukan adalah pengukuran berat badan dan tinggi badan, pengukuran tekanan darah, tes asam urat, beserta konsultasi kesehatan. Seluruh rangkain kegiatan diberikan secara gratis. Melalui kegiatan pemeriksaan kesehatan ini, diharapkan agar lansia mulai memiliki keinginan dan motivasi serta kemauan untuk mengontrol kesehatan secara rutin.
Analisis kelebihan dan kekurangan program :
Kelebihan secara umum tentang perintisan posyandu lansia adalah dukungan ketua RT dan kader lansia sangat baik. Bantuan berupa sumbangan ide dan saran sangat membantu mahasiswa.
Kelebihan pada program kerja senam lansia adalah calon kader yang sangat berperan aktif sangat membantu pada proses sosialisasi dan berjalannya senam lansia. Kader membantu menyediakan lapangan untuk tempat senam lansia. Ketika senam akan segera dilaksanakan dan para lansia belum datang, kader dengan sukarela membantu mahasiswa mengumumkan kegiatan kembali melalui takmir masjid dan mendatangi rumah warga terdekat. Selain peran kader yang aktif, kelengkapan jumlah mahasiswa juga membuat kegiatan ini berjalan dengan lancer sesuai dengan jobdesk masing-masing. Selama pelaksanaan kegiatan senam berjalan lancer dan tidak mengalami kekurangan sumber daya manusia (SDM). Peserta yang datang juga aktif dan antusias mengikuti kegiatan yang berjalan. Peserta yang datang megikuti kegiatan sampai selesai.
Kekurangan secara umum tentang perintisan posyandu lansia adalah pengumpulan fotocopy kartu tanda penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) para lansia yang belum mencapai target minimal, yaitu 75 lansia. Hali ini disebabkan karena ketua RT belum memiliki KTP dan KK para lansia, sehingga mahasiswa harus melakukan pengumpulan secara door to door. Ketika proses pengumpulan, masih banyak lansia yang tinggal di wilayah RW 8 kelurahan Medokan Semampir, namun tidak memiliki KTP dan KK asli Medokan Semampir. Selain itu, saat ada mahasiswa yang meminta fotocopy KTP dan KK kepada beberapa lansia, belum disambut secara positif.
Sedangkan kekurangan dalam peaksanaan senam lansia adalah belum tersedianya fasilitas yang memadai. Lapangan yang digunakan sebagai tempat senam tidak terletak di dekat balai, sehingga perlu menggunakan kabel olor untuk mencapai sumber listrik dan menghidupkan sound. Sound yang digunakan juga perlu dibawa dari balai RT 4 sehingga membutuhkan waktu dan tenaga untuk proses pengangkutan. Kegiatan lansia belum memiliki alat ukur tinggi badan dan berat badan, sehingga perlu meminjam dan mengangkut alat dari rumah ibu kader posyandu balita yang berada kurang lebih 500 meter dari lapangan. Selain fasilitas yang belum memadai, 30% jumlah peserta yang mengikuti senam masih belum lansia dan datang diwaktu yang berbeda. Sebagian lansia datang bahkan ketika senam sudah memasuki sesi terakhir. Hal ini menyebabkan adanya permintaan untuk mengulangi senam yang dilakukan sehingga menambah estimasi waktu yang dihabiskan.

Saran untuk keberlanjutan dan perbaikan pokja :
Saran secara umum untuk kegiatan perintisan posyandu lansia adalah alangkah lebih baiknya bila RT memiliki data warganya secara lengkap sehingga mempermudah pembentukan posyandu lansia. Selain itu perlunya komunikasi terapeutik dari mahasiswa kepada warga yang tidak bersedia menyerahkan fotocopy dan KK.
Saran secara umum untuk pelaksanaan kegiatan senam lansia adalah perlunya sosialisasi kegiatan beberapa hari sebelumnya dengan memanfaatkan kegiatan warga, misalnya melali acara arisa, pengajian, ataupun kegiatan dasawisma. Sehingga diharapkan para lansia yang mengikuti kegiatan lebih banyak. Selain itu, perlu tempat yang strategis dan peralatan tertentu dalam pelaksanaan senam lansia.
"


Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    39.439