Ferry Efendi

Berbagi, Peduli dan Menginspirasi

TUGAS RESUME KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

09 February 2018 - dalam Tugas Kuliah Oleh ferry-efendi-fkp

Oleh: Cicik Eka Irawati S.Kep

NIM: 131623143031

1. Pokja Lansia RW 08 RT 01 dan 02 kegiatan; permasalahan dan tantangan; solusi dan langkah kedepannya (saran/rekomendasi yang bisa di lakukan)Resume Kegiatan Pokja LansiaKegiatan Keperawatan Komunitas dari Fakultas Keperawatan UNAIR gelombang 2 di RW 08 khususnya di RT 01 dan 02, salah satunya adalah menyusun program kerja untuk lansia (lanjut usia). Berdasarkan hasil pengkajian awal pada tanggal 4 – 9 Desember 2017, didapatkan hasil yaitu terdapat 30 lansia di RT 01 dan 02 RW 08 Kelurahan Medokan Semampir. Penyakit yang paling banyak diderita lansia saat ini adalah Hipertensi 18,5% (5 orang), DM 11,1% (3 orang), Kolesterol 7,4% (2 orang), stroke 3,7% (1 orang), ISPA 33,3% (orang), lain-lain 26% (7 orang). Berdasarkan hasil tersebut, program kerja yang disusun untuk lansia terdiri dari 4 kegiatan, yaitu pemeriksaan kesehatan (pemeriksaan BB, tekanan darah dan gula darah), penyuluhan hipertensi, senam stroke dan pendampingan kegiatan lansia. Semua kegiatan tersebut dapat dijalankan dengan lancar sampai selesai walaupun ada beberapa kendala dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Pelaksanaan program kerja lansia di RW 08 RT 01 dan 02 dilaksanakan dalam 1 kali waktu yaitu pada tanggal 26 Desember 2017. Sebelum kegiatan, promosi kegiatan pokja lansia ke warga masyarakat di wilayah ini, permohonan ijin tempat dan pelaksanaan kegiatan dan undangan sudah dilakukan. Saat pemeriksaan kesehatan untuk lansia dihadiri oleh 20 orang tetapi yang lansia hanya 12 orang. Mahasiswa tetap melakukan penjemputan dan pemeriksaan kesehatan di rumah. Hanya ada 1 lansia yang bersedia dilakukan kunjungan dan pemeriksaan. Sedangkan kegiatan pendampingan lansia dilaksanakan setiap hari Sabtu, yaitu senam lansia yang dilaksanakan di lapangan Balai RT 03 RW 08. Pendampingan kegiatan Posyandu lansia tanggal 27 Desember 2017 di Balai RT 03 RW 08. Mahasiswa melakukan pendampingan kepada para kader lansia RW 08 mulai dari meja pendaftaran, penimbangan berat badan, tinggi badan, pemeriksaan tekanan darah dan pencatatan di buku Posyandu lansia. Mahasiswa juga memberikan buku panduan untuk kader lansia dan buku hasil pemeriksaan kesehatan.Kendala/permasalahan yang dihadapi saat melakukan program kerja tersebut, yaitu para lansia di wilayah ini belum bisa memanfaatkan sepenuhnya kegiatan yang ada di wilayahnya termasuk Posyandu Lansia di balai RT 03 RW 08 dikarenakan jarak yang jauh , tidak ada yang mengantar lansia ke tempat tersebut, fasilitas dan transportasi yang dimiliki pasien tidak mendukung. Para lansia lebih menginginkan kegiatan pengobatan.Mereka berharap tidak hanya dilakukan pemeriksaan tetapi mereka juga mendapat obat. Para lansia kurang mempunyai semangat untuk mengikuti kegiatan dikarenakan promotor/penggerak para lansia yang kurang. Hanya ada 1 kader lansia yang aktif untuk memberikan informasi dan mengajak para lansia untuk kegiatan.Permasalahan yang dihadapi tersebut memerlukan usaha keras dan terus menerus untuk membuat para lansia di wilayah ini menjadi mandiri, tetap sehat dan produktif dengan memanfaatkan waktu luang yang mereka miliki. Adapun langkah-langkah yang perlu diambil untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu menambah jumlah kader untuk lansia sehingga semakin banyak lansia yang bisa diajak, diberi motivasi untuk mengikuti kegiatan lansia yang selama ini sudah dijalankan di RW 08. Perlu seseorang yang bisa menjadi promotor dan pemeberi semangat kepada para lansia, menyediakan fasilitaas untuk kegiatan lansia yang mudah dijangkau khususnya di RT 01 dan 02. Terus melakukan kolaborasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan terdekat seperti RS Gotong Royong dan Puskesmas Keputih, sehingga kesehatan para lansia di RT 01 dan 02 tetap terpantau. Para lansia di wilayah ini memerlukan health education secara periodik agar mereka mempunyai pandangan kesehatan yang berubah. Mereka tidak hanya menjaga kesehatan melalui obat (curative) tetapi mereka melakukan upaya promotif dan preventif untuk menjaga kesehatannya.

Sumber:Hasil Pengkajian awal FGD 4-7 Desember 2017 Hasil pemeriksaan kesehatan Pokja Lansia RT 01 dan 02 RW 08, 26 Desember 2017

2. Jelaskan konsep komunitas (referensi Buku Effendi & makhfudli)

definisi; indikator pencapaian perkesmas.

Definisi Konsep Komunitas:Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai persamaan nilai (value), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga (Sumijatun, dkk, 2006). Misalnya di dalam kesehatan di kenal kelompok ibu hamil, kelompok ibu hamil, kelompok ibu menyusui, kelompok anak balita, kelompok lansia, kelompok masyarakat dalam suatu wilayah desa binaan dan lain sebagainya. Keperawatan kesehatan komunitas menurut American Public Health Association (2004) adalah sintesis dari ilmu kesehatan masyarakat dan teori keperawatan profesional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pada keseluruhan komunitas. Menurut Effendi & Makhfudli (2009) keperawatan kesehatan komunitas berorientasi pada proses pemecahan masalahyang dikenal dengan proses keperawatan (nursing process) yaitu suatu metode ilmiah dalam keperawatan yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai cara terbaik dalam memberikan pelayanan keperawatan yang sesuai respons manusia dalam menghadapi masalah kesehatan. Langkah-langkah dalam proses keperawatan kesehatan komunitas adalah pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Dalam penerapan proses keperawatan, terjadi proses alih peran dari tenaga keperawatan kepada klien (sasaran) secara bertahap dan berkelanjutan untuk mencapai kemandirian sasaran dalam menyelesaikan masalah kesehatannya (Depkes RI, 2006). Proses alih peran tersebut digambarkan sebagai lingkaran dinamis proses keperawatan sebagai berikut. Pelayanan keperawatan kesehatan komunitas mempunyai ciri sebagai berikut:

a. Merupakan perpaduan antara pelayanan keperawatan dengan kesehatan komunitas.

b. Adanya kesinambungan pelayanan kesehatan (continutyof care)

c. Fokus pelayanan pada upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) baik pada pencegahan tingkat pertama, kedua maupun ketiga

d. Terjadi proses alih peran dari perawat kesehatan komunitas kepada klien (individu, keluarga, kelompok, masyarakat) sehingga terjadi kemandirian.

e. Ada kemitraan perawat kesehatan komunitas dengan masyarakat dalam upaya kemandirian klien.

f. Memerlukan kerja sama dengan tenaga kesehatan lain dan masyarakat.

Indikator Pencapaian Perkesmas: Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari 6, yaitu

a. Indikator kinerja klinik Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas, yaitu:

1) Indikator input

- Presenatasi perawat koordinator (D3 Keperawatan)

- Presentasi penanggungjawab daerah binaan/desa punya PHN kit

- Presentasi Puskesmas memiliki pedoman/standar

- Tersedia dana operasional untuk pembinaan

- Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan

- Tersedia dukungan administrasi (buku register, family folder, formulir laporan, dll)

2) Indikator proses

- Perentasi keluarga awam mempunyai family folder

- Maping (peta)sasaran Perkesmas- Rencana kegiatan Perkesmas (POA)

- Bukti pembagian tugas perawat

- Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain

- Catatan keperawatan

- Kegiatan refleksi diskusi kasus

- Hasil pemantauan dan evaluasi

3) Indikator output

- Persentasi keluarga awam

- Persentasi keluarga selesai dibina

- Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care)

- Perentasi kelompok dibina

- Persentasi daerah binaan di suatu wilayah

4) Indikator hasil (outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM), masing-masing mempunyai 4 kriteria sebagai berikut:

- Menerima petugas Puskesmas

- Menerima pelaayanan kesehaatan sesuai rencana

- Menyatakan masalah secara benar

- Memanfaatkan saran kesehatan sesuai anjuran

- Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif

- Melaksanakan tindakan promotif secara aktif

b. Indikator kinerja fungsional: Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pecapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator kliniknya (output)

Sumber: American Public Helath Association. 1996. Essentials of Master’s Level Nursing Education for Advanced Community/Public Health Nuring Practice. Association of Community Health Nursing Education. New York. Depkes, RI. 1993. Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Depkes, RI. 1996. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Effendi & Makhfudli. 2009. Keperawatan Komunitas: Teori dan Praktek dalam Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta Sumijatun, dkk. 2006. Konsep Dasar Keperawatan Komunitas. EGC. Jakarta

3. Jelaskan konsep keluarga(referensi Buku Effendi & makhfudli)

definisi; indikator perawatan keluarga.

Definisi Perawatan Keluarga Menurut Effendi & Makfudli (2009), keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing dan merupakan bagian dari keluarga.Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Marilyn M. Friedman, 1998 dalam Effendi & Makhfudli, 2009) Sedangkan menurut Duval dan Logan (1986) adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembanganKarakteristik keluarga adalah

a. Terdiri atas dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan, atau adopsi.

b. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap memperhatikan satu sama lain

c. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai peran sosial seperti peran suami, istri, anak, kaka dan adik.

d. Mempunyai tujuan menciptakan dan mempertahankan budaya serta meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota keluarga yang lain.Keluarga juga sebagai suatu sistem yang terdiri dari ayah, ibu dan anak atau semua individu yang tinggal didalam rumah tangga tersebut. Anggota keluarga tersebut saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi untuk mencapai tujuan bersama. Keluarga merupakan sistem terbuka sehingga dapat dipengaruhi oleh supra-sistemnya seperti lingkungan (masyarakat). Sebaliknya, sebagai subsistem dari lingkungan (masyarkat), keluarga dapat mempengaruhi masyarakat (supra-sistem). Indikator utama penanda status kesehatan keluarga berdasarkan Program Indonesia Sehat (Kemenkes, RI, 2016):

a. Keluarga mengikuti program keluarga berencana.

b. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

c. Bayi mendapatkan imunisaasi dasar lengkap.

d. Bayi mendapat ASI eksklusif.

e. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan.

f. Penderita TB Paru mendapatkan pengobatan sesuai standar.

g. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur.

h. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan.

i. Anggota keluarga tidak ada yang merokok.

j. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

k. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih.

l. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

Sumber: Effendi & Makhfudli. 2009. Keperawatan Komunitas: Teori dan Praktek dalam Keperawatan. Salemba Medika. JakartaKemenkes, RI. 2016. Pedoman Umum: Program Indonesia Sehat dengan PendekaatanKeluarga. Jakarta4.

4. Article : Community Health Nursing (journal)

ringkasan singkat:

Judul artikel: Ketidaktepatan Sasaran Jaminan Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Kriteria Miskin Pendapatan Program Perlindungan Sosial

Jaminan kesehatan merupakan jaminan perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran, atau iurannya dibayar oleh pemerintah. Tujuan dari program ini adalah melaksanakan penjaminan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat miskin dan tidak mampu dengan menggunakan prinsip asuransi kesehatan sosial. Selain itu, program ini juga bertujuan untuk mencegah masyarakat yang hampir miskin untuk tidak jatuh miskin ketika sakit. Masyarakat yang berhak mendapatkan Jamkesmas adalah rumah tangga sangat miskin, rumah tangga miskin, dan rumah tangga hampir miskin. Ketidaktepatan program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) akan menyebabkan dampak penggunaan anggaran yang tidak efisien. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin dari tahun 2007 sampai 2010 berturut-turut adalah 37,1 juta, 34,96 juta, 32,53 juta, dan 31,023 juta jiwa. Sejak tahun 2012, penentuan pesertaan Jamkesmas menggunakan data survei BPS tahun 2011 oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bekerja sama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Data Kemenkes menunjukkan cakupan pesertaan Jamkesmas di Indonesia tahun 2010 adalah 53,7% dari penduduk yang telah memiliki jaminan kesehatan. Peserta Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) hingga tahun 2010 mencapai 76,4 juta jiwa mencakup masyarakat miskin dan tidak mampu, sedangkan peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) mencapai 31,6 juta jiwa. Secara prinsip, program Jamkesda dibentuk untuk memfasilitasi masyarakat miskin dan kurang mampu di luar kuota Jamkesmas yang dibiayai oleh pemerintah daerah.Terdapat dua jenis data kemiskinan, yaitu kemiskinan makro dan mikro. Kemiskinan makro bersumber dari Susenas dengan dasar GKM dan GKNM yang digunakan oleh BPS sebagai penentu jumlah penduduk dan rumah tangga miskin. Sedangkan data kemiskinan mikro menggunakan pendekatan nonmoneter bersumber dari Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) dan menyediakan data jumlah rumah tangga sasaran menurut nama dan alamat. Pendataan data kemiskinan mikro dilaksanakan dari unit terkecil, mulai dari rumah tangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan sampai tingkat kabupaten. 10Jika pendataan jumlah penduduk dan rumah tangga miskin ini melebihi kuota Jamkesmas yang diberikan kepada pemerintah daerah, maka akan terdapat penduduk yang sebenarnya miskin tetapi tidak masuk cakupan Jamkesmas. Jika pendataan jumlah penduduk dan rumah tangga miskin ini melebihi kuota Jamkesmas yang diberikan kepada pemerintah daerah, maka akan terdapat penduduk yang sebenarnya miskin tetapi tidak masuk cakupan Jamkesmas.Penggunaan data kriteria kemiskinan mikro mampu menyediakan informasi mengenai penduduk miskin sampai dengan nama, alamat penduduk miskin, dan dapat mencakup penduduk hampir miskin. Adapun 13 kriteria tersebut adalah mendapatkan beras murah, mendapatkan layanan kesehatan gratis, jenis atap terluar (berbahan dari beton/genteng/sirap/asbes/seng/ijuk), jenis dinding tempat tinggal (dari bambu/rumbia/kayu kualitas rendah/tembok tanpa diplester), jenis lantai terbuat dari kayu murah/bambu/tanah, luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari delapan meter persegi perorang, sumber air minum berasal dari sumur/mata air tak terlindungi/sungai/air hujan, tidak memiliki fasilitas buang air besar, sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik, bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah, status kepemilikan bangunan terdiri dari milik sendiri atau milik bersama, tempat pembuangan tinja, dan kepemilikan aset. Suatu rumah tangga dikatakan sangat miskin jika memenuhi semua dari 13 indikator tersebut, dikatakan miskin jika memenuhi 11 - 13 indikator, dan dikatakan hampir miskin jika memenuhi 9 - 10 indikator

Hasil penelitian ini, menunjukkan penduduk miskin belum secara keseluruhan dijangkau Jamkesmas. Penduduk yang mendapatkan Jamkesmas tidak sepenuhnya penduduk miskin. Dengan kata lain, Jamkesmas masih belum tepat sasaran serta kriteria konsekuensi atau dampak Jamkesmas, seperti hak mendapatkan beras murah dan layanan gratis sebaiknya tidak dimasukkan sebagai kriteria pesertaan Jamkesmas.Masih terdapat 12,4% penduduk yang mendapatkan Jamkesmas, tetapi tidak miskin atau hampir miskin. Selain itu, masih terdapat 56,4% penduduk yang hampir miskin dan 41,1% penduduk miskin yang belum terjangkau pesertaan Jamkesmas. Layanan gratis merupakan faktor yang paling menentukan apakah penduduk dapat menjadi peserta Jamkesmas atau tidak. Mereka yang memiliki layanan kesehatan gratis berpeluang 5,462 kali mendapatkan layanan Jamkesmas dibandingkan mereka yang tidak memiliki layanan gratis.Perbaikan basis data, pengawasan, evaluasi serta sistem alokasi yang baik sangat diperlukan untuk mengurangi ketidaktepatan sasaran. Penyesuaian data antara Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan daerah berguna dalam penanganan peserta yang belum terdata

Sumber:Lutfiah, Setiawan & Lucia. 2015. Ketidaktepatan Sasaran Jaminan Kesehatan MasyarakatBerdasarkan Kriteria Miskin Pendapatan Program Perlindungan Sosial. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol 9.No. 4. Tersedia di link: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=426139&val=7113&title=Ketidaktepatan%20Sasaran%20Jamkesmas%20Berdasarkan%20Kriteria%20Miskin%20Pendataan%20Program%20Perlindungan%20Sosial. Diakses tanggal: 16 Januari 2018



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    45.852