Ferry Efendi

Berbagi, Peduli dan Menginspirasi

TUGAS RESUME KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

09 February 2018 - dalam Tugas Kuliah Oleh ferry-efendi-fkp

Oleh: DWI INDAH KURNIAWATI, S.Kep

NIM: 131623143044

1. Resume kegiatan POKJA LANSIA

Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners (P3N) angkatan B18 kelompok 4 gelombang II telah melaksanakan profesi ners stase Keperawatan Komunitas di wilayah Medokan Semampir RW VIII pada tanggal 4 Desember 2017 hingga 20 Januari 2018. Berkaitan dengan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan maka perlu mengadakan praktik keperawatan klinik pada lansia yang merupakan bagian dari keperawatan komunitas. Langkah pertama yang dilakukan adalah pengambilan data untuk mengkaji permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat. Data pengkajian berasal dari wawancara kader, tokoh RT dan RW, Puskesmas, laporan komunitas berkelanjutan, warga setempat, observasi dan hasil survey door to door oleh mahasiswa. Berdasar hasil pengkajian data awal tanggal 4 – 11 Desember 2017, di RT 01 dan RT 02 RW VIII Kelurahan Medokan Semampir Kecamatan Sukolilo Kota Surabaya didapatkan hasil 27 responden lansia dan hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat di RW VIII didapatkan hasil bahwa 96,3% lansia bersedia mengikuti posyandu lansia di RW VIII, sedangkan 3,7 % tidak bersediamengikutiposyandukarenasibukbekerjaberjualandansebagainya. Sedangkan, untuk penyakit yang paling banyak diderita oleh lansia hipertensi 18,5% (5 orang), DM 11,1% (3 orang), kolesterol 7,4% (2 orang), stroke 3,7% (1 orang), ISPA 33,3% (9 orang), dan lain-lain 26% (7 orang).Dari hasil pengkajian tersebut, didapatkan masalah dan bersama warga dalam diskusi bersama Foccus Group Discussion (FGD) pada tanggal 12 Desember 2017 dan mini lokakarya (minlok) tanggal 14 Desember 2017 telah disepakati bersama penanganan masalah kesehatan lingkungan berupa program kerja. Program kerja yang disepakati antara lain penyuluhan tentang hipertensi, pemeriksaan kesehatan (TD, BB dan cek GDA) pada lansia, senam anti stroke dan pendampingan lansia.Program kegiatan pertama adalah pendampingan lansia setiap hari Sabtu yaitu senam lansia yang dilaksanakan di lapangan Balai RT 03 RW VIII dan tanggal 27 Desember 2017 kegiatan Posyandu Lansia, disini mahasiswa hanya mendampingi serta membantu para kader-kader lansia dalam melakukan kegiatan mereka. Tujuannya agar para kader dapat melakukan kegiatan secara mandiri dan benar. Beberapa kegiatan pokja lansia digabung dan dilaksanakan dalam satu waktu serta tempat, yaitu tanggal 26 Desember 2017 di Balai RT 01 RW VIII. Pertama, mahasiswa melaksanakanpemeriksaan kesehatan seperti pengukuran tekanan darah, berat badan (BB) dan pemeriksaan gula darah acak (GDA). Tujuannya untuk mengetahui adanya hasil pemeriksaan kesehatan para lansia yang tidak terkontrol di atas/bawah batas normal, selanjutnya diberi pendidikan kesehatan dan dianjurkan untuk berobat ketempat pelayanan kesehatan terdekat. Selanjutnya dilakukan kegiatan penyuluhan kesehatan tentang waspada hipertensi pada lansia, dilanjutkan demontrasi senam anti stroke bersama lansia. Tujuan dari kegiatan ini agar warga terutama lansia dapat mengetahui dan mencegah terjadinya keparahan dari penyakit hipertensi.Kegiatan pokja lansia dapat berjalan dengan lancar karena partisipasi dan kerjasama dari warga dan kader RT 01 & 02 RW VIII. Hambatan dalam kegiatan ini antara lain kemauan warga dan dukungan keluarga dalam menjaga kesehatan terutama lansia. Solusi dari hambatan kegiatan adalah koordinasi dengan warga dan kader untuk lebih memberikan dukungan pada keluarga yang memiliki lansia terutama dalam kegiatan Posyandu Lansia. Harapan dari pokja lansia adalah kegiatan lansia di RW VIII dapat berlanjut dan kesehatan para lansia dapat dikontrol.

Sumber:Hasil Pengkajian awal FGD 4-7 Desember 2017Hasil pemeriksaankesehatan Pokja Lansia RT 01 dan 02 RW 08, 26 Desember 2017

2. Konsep komunitas Menurut American Nurses Association (ANA) (2004), keperawatan kesehatan komunitas adalah sebagai tindakan untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dari populasi dengan mengintegrasikan keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan keperawatan dan kesehatan masyarakat.Menurut American Public Health Association (2004), keperawatan kesehatan komunitas adalah sintesis dari ilmu kesehatan masyarakat dan teori keperawatan profesional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan pada keseluruhan komunitas. Komunitas adalah sekelompok manusia serta hubungan yang ada di dalamnya sebagaimana yang berkembang dan digunakan dalam suatu agen, institusi serta lingkungan fisik yang lazim (Widagdo, 2016).Fungsi komunitas (Widagdo, 2016):

1. Produksi, distribusi dan konsumsi

2. Sosialisasi

3. Kontrol sosial

4. Partisipasi

5. Dukungan bersama Keperawatan komunitas adalah suatu bentuk pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan terutama pada kelompok risiko tinggi untuk meningkatkan status kesehatan komunitas dengan menekankan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta tidak mengabaikan kuratif dan rehabilitatif (Widagdo, 2016).

Prioritas Pembangunan Kesehatan Indonesia tahun 2015-2019 (Kemenkes, 2016) :

1. Upaya kesehatan

a. Peningkatan kesehatan ibu dan anak

b. Pengendalian kematian bayi dan balita

2. Gizi masyarakat

3. Penyakit menular

4. Penyakit tidak menular

5. Kesehatan jiwa Indikator Pencapaian Perkesmas:Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari 6, yaitu:

a. Indikator kinerja klinik

Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas, yaitu:

1) Indikator input

- Presenatasi perawat koordinator (D3 Keperawatan)

- Presentasi penanggungjawab daerah binaan/desa punya PHN kit

- Presentasi Puskesmas memiliki pedoman/standar

- Tersedia dana operasional untuk pembinaan

- Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan

- Tersedia dukungan administrasi (buku register, family folder, formulir laporan, dll)

2) Indikator proses

- Perentasi keluarga awam mempunyai family folder

- Maping (peta)sasaran Perkesmas

- Rencana kegiatan Perkesmas (POA)

- Bukti pembagian tugas perawat

- Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain

- Catatan keperawatan

- Kegiatan refleksi diskusi kasus

- Hasil pemantauan dan evaluasi

3) Indikator output- Persentasi keluarga awam

- Persentasi keluarga selesai dibina

- Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care)

- Perentasi kelompok dibina

- Persentasi daerah binaan di suatu wilayah

4) Indikator hasil (outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM), masing-masing mempunyai 4 kriteria sebagai berikut:

- Menerima petugas Puskesmas

- Menerima pelaayanan kesehaatan sesuai rencana

- Menyatakan masalah secara benar

- Memanfaatkan saran kesehatan sesuai anjuran

- Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif

- Melaksanakan tindakan promotif secara aktifb. Indikator kinerja fungsionalIndikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pecapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator kliniknya (output)

Sumber :Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta : Kemenkes RI.Widagdo. 2016. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta : PPSDM Kesehatan.Ferry Effendi &Makhfudl. 2009. Keperawatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika.

3. Konsep keluarga

Menurut Marilyn M. Friedman (1998), keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga.Menurut Duval dan Logan (1986), keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan,mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. Menurut Salvicion G. Bailon dan Aracelis Maglaya (1978), keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing, dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya. Fungsi keluarga menurut Friedman (1998 dalam Efendi, Ferry & Makhfudli, 2009) :

1. Fungsi Afektif

2. Fungsi sosialisasi dan penempatan sosial

3. Fungsi reproduksi

4. Fungsi ekonomi

5. Fungsi perawatan kesehatan:

a. Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan keluarga

b. Kemampuan keluarga membuat keputusan yang tepat bagi keluarga

c. Kemampuan keluarga merawat keluarga yang sakit

d. Kemampuan keluarga memciptakan lingkungan sehat

e. Kemampuan keluarga mengakses fasilitas kesehatan

Indikator utama penanda status kesehatan keluarga berdasarkan Program Indonesia Sehat (Kemenkes, 2016):

1) Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)

2) Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

3) Bayi mendapatkan imunisasi dasar lengkap

4) Bayi mendapatair susu ibu (ASI) eksklusif

5) Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan

6) Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar

7) Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur

8) Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan

9) Tidak ada anggota keluarga yang merokok

10) Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

11) Keluarga mempunyai akses sarana air bersih

12) Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

Sumber :Doane, G. H., & Varcoe, C. (2005). Family Nursing as Relational Inquiry: Developing Health Promoting Practice. Philadelphia: Lippincott : USA.Ferry Effendi &Makhfudl. 2009. Keperawatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam Keperawatan.Jakarta : Salemba Medika.Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta : Kemenkes RI.American Nurses Association. 2004. Scope and Standards for Nurse Administration, Edisi 2. Washington: Nursesbooks.org.American Public Health Association, Public Health Nursing Section. 1996. Essentials of Master’s Level Nursing Education for Advanced Community/Public Health Nursing Practice. New York: Association of Community Health Nurse Education.

4. Jurnal Community Health Nursing

Judul Artikel: Tradisi dan Lingkungan Sosial Mempengaruhi Dukungan Menyusui pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Malang

Berat badan lahir rendah (BBLR) menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian bayi di dunia. Setiap tahun sekitar 20 juta BBLR lahir di dunia dan 96,5% berada di negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, kelahiran BBLR mencapai 10,2% pada tahun 2013. Provinsi Jawa Timur memiliki persentase kelahiran BBLR tertinggi di pulau Jawa sebesar 11,2%. Penyebab kelahiran bayi BBLR sebagian besar karena kelahiran prematur (67%) dan kecil masa kehamilan (KMK) (33%). Bayi prematur memiliki organ dalam yang belum sempurna perkembangannya. Bayi prematur yang disertai BBLR akan sangat rentan terhadap masalah kesehatan yang berakibat kesakitan dan kematian.Menyusui menjadi salah satu rekomendasi World Health Organization (WHO) tahun 2003 untuk penanganan BBLR. Bayi BBLR yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) dan mendapatkan susu formula dua kali berisiko mengalami infeksi, seperti necrotizing enterocolitis, diare, dan infeksi saluran pernapasan. Sebuah penelitian di Jepang dari 115 bayi BBLR yang dirawat di Neonatal Intensive Care Unit (NICU), prevalensi pemberian ASI saja atau ASI eksklusif ketika keluar dari NICU hanya sebesar 22,6% atau sebanyak 26 bayi, sedangkan 77,4% atau sebanyak 89 bayi diberikan ASI campur susu formula/susu formula saja ketika keluar dari NICU. Sedangkan di Indonesia, capaian ASI eksklusif secara nasional hanya 30,2%. Kesulitan menyusui termasuk pada bayi BBLR memungkinkan berkontribusi dengan rendahnya prevalensi tersebut.Kesulitan tersebut dapat muncul dari bayi, ibu, maupun lingkungan sekitarnya di awal periode postpartum. Ibu yang melahirkan bayi prematur dan BBLR memiliki perasaan negatif ketika menyusui seperti cemas, rasa lelah, bersalah, sedih serta takut saat menggendong dan menyentuh bayinya. Perasaan negatif yang muncul menimbulkan stres psikologis yang dapat menyebabkan kegagalan menyusui pada bayi prematur. Pengaruh budaya lokal juga memengaruhi praktik pemberian ASI pada bayi BBLR di Indonesia. Provinsi Jawa Timur, khususnya kota Malang, sebagian besar penduduknya adalah suku Jawa sehingga budaya Jawa ikut memengaruhi dalam praktik menyusui. Anjuran atau larangan makanan-minuman, perilaku dan kepercayaan untuk ibu menyusui, seperti mandi keramas dengan mata terbuka atau mandi wuwung, minum ramuan herbal untuk menyusui yang terbuat dari campuran akar-akaran seperti kunyit, jahe, temulawak atau yang masyarakat Malang menyebutnya ‘jamu gejah’ (jamu kunyit asam), bayi rewel tanda ASI tidak cukup sehingga perlu ditambah makanan pendamping ASI (MPASI), dan lain-lain. Baik anjuran maupun larangan tersebut memiliki peran dalam menyusui, khususnya dipercaya keluarga mampu melancarkan produksi ASI, meningkatkan kesehatan ibu dan bayi sehingga ibu dianjurkan tetap melaksanakan tradisi tersebut meskipun hal tersebut membuat ibu kurang nyaman. Lingkungan sosial juga memengaruhi ibu dalam menyusui, seperti semakin banyak ibu bekerja, promosi susu formula dan pengaruh tetangga dalam memberikan MPASI dini sehingga keputusan ibu untuk tetap menyusui atau tidak menjadi sangat penting.Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Ibu primipara yang pernah melahirkan bayi dengan BBLR di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang, pernah memberikan ASI, tinggal di wilayah kota Malang, Islam, dan suku Jawa diikutsertakan dalam penelitian ini.Pengumpulan data dilakukan dengan wawancaara mendalam semiterstruktur, observasi dan data sekunder pada bulan Mei – Juni 2015. Melalui wawancara semiterstruktur, didapatkan data mengenai pengalaman ibu awal menyusui bayinya ketika di rumah sakit (pengenalan menyusui melalui inisiasi menyusu dini (IMD), Kangaroo Mother Care (KMC), memerah ASI dan kegiatan rutin (menyusui). Selain itu, ditanyakan mengenai pengalaman menyusui di rumah termasuk di dalamnya adalah kesulitan yang dihadapi, usaha mengatasi kesulitan, budaya terkait ibu menyusui, bentuk dukungan yang diberikan oleh keluarga dan lingkungan sekitar. Melalui observasi menyusui, didapatkan data komunikasi dan interaksi antara ibu-bayi-keluarga saat menyusui. Sedangkan melaluidata sekunder, didapatkan data demografi ibu dan bayi. Tujuh orang partisipan bersedia ikut serta dalam penelitian ini.Dalam penelitian ini ditemukan empat tema, antara lain pengenalan menyusui sejak dini untuk bayi BBLR, pemberian MPASI dini sebagai alternatif dalam mengatasi kesulitan menyusui, tradisi yang dipercayai dan lingkungan sosial memengaruhi dukungan bagi ibu menyusui, dan menerima menyusui sebagai bagian dari kodrat seorang perempuan. Keempat tema tersebut diperoleh dari pengalaman ibu yang masih menyusui maupun yang telah tidak menyusui saat wawancara.Pengenalan menyusui sejak dini disampaikan ketujuh partisipan berupa dilakukannya IMD, rawat gabung, memerah ASI, dan KMC selama di rumah sakit. Pengalaman yang berbeda ditemukan pada keempat partisipan yang masih menyusui saat wawancara, yaitu meskipun merasakan kesulitan dalam menyusui, namun adanya manfaat yang dirasakan bagi diri dan bayinya dari pemberian ASI menjadi alasan keempat partisipan tersebut tetap menyusui. Selain manfaat yang dirasakan, juga ditemukan adanya upaya partisipan untuk tetap memberikan ASI khususnya pada partisipan yang bekerja dan masih menyusui. Tradisi yang dipercayai untuk memperlancar ASI disampaikan ketujuh partisipan berupa anjuran dan pantangan yang berkaitan dengan makanan-minuman, perilaku atau kepercayaan untuk ibu menyusui seperti larangan makan pedas, anjuran makan sayur, mandi banyu wuwungyaitu mandi keramas setiap pagi dengan mata terbuka ketika dialirkan air dari kepala. Pengaruh lingkungan sosial bagi ibu menyusui seperti menggunakan internet untuk mengetahui informasi menyusui, memilih susu formula untuk MPASI serta ibu mengikuti anjuran tetangga/lingkungan sekitar dalam praktik menyusui. Dukungan disampaikan partisipan berupa adanya dukungan formal dari tenaga kesehatan dan dukungan informal dari suami, keluarga, dan teman untuk meningkatkan produksi ASI. Menerima menyusui sebagai bagian dari kodrat seorang perempuan disampaikan partisipan berupa perasaan bangga, senang, serasa menjadi perempuan seutuhnya.Pada hasil penelitian, ditemukan empat tema dan bila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, terdapat perbedaan dalam tema yang ditemukan. Perbedaan tersebut adalah adanya tema tentang tradisi yang kuat dan lingkungan sosial dalam memengaruhi dukungan yang diberikan bagi ibu untuk menyusui bayi BBLR di Indonesia. Bayi BBLR membutuhkan pengenalan menyusu untuk menunjangkeberhasilan menyusu. Di awal menyusui muncul perasaan takut, kasihan, tidak percaya, sedih, kaget, tidak tega, kesulitan menggendong, memegang dan menyusui dirasakan oleh partisipan saat melihat bayinya.Pengenalan menyusui dilakukan partisipan melalui IMD, rawat gabung dan KMC. Tidak semua partisipan dilakukan IMD karena kondisi bayinya yang tidak stabil. Partisipan mengeluhkan kesulitan selama melakukan KMC di rumah sakit sehingga ketika di rumah, partisipan tidak melanjutkan melakukan KMC. Untuk melanjutkan KMC, memungkinkan ibu mengalami kesulitan secara fisik dan emosi sehingga membutuhkan bantuan dari anggota keluarga, tenaga kesehatan, atau ibu yang lain. Rawat gabung juga salah satu upaya mendukung keberhasilan menyusui. Partisipan yang dilakukan rawat gabung menyatakan senang karena ASI lebih lancar dan lebih mudah untuk menyusui bayinya.Pemberian MPASI dini dilakukan partisipan sebagai alternatif menghadapi kesulitan untuk tetap menyusui. Partisipan mengeluhkan kesulitan seperti kelainan puting (puting terbenam, pecah, terlalu besar, dan lecet), keluarga yang menganjurkan berhenti menyusui dan memberikan MPASI, nyeri karena terlalu sering memompa ASI, dan pekerjaan ibu. Meskipun merasakan kesulitan dalam menyusui, partisipan juga merasakan manfaat menyusui sehingga keempat partisipan memutuskan untuk tetap menyusui. Manfaat yang dirasakan partisipan berupa praktis, hemat, bayi jarang sakit, terdapat ikatan antara ibu-bayi, sebagai obat, dan aman. Namun, meskipun ketujuh partisipan merasakan manfaat ASI, partisipan tetap memberikan MPASI dini pada bayinya. Partisipan mulai mengenalkan MPASI sejak bayinya berusia dua sampai empat bulan.Lan penelitian ini yaitu menyusui bayi BBLR memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Adanya tradisi yang dipercayai keluarga dan pengaruh lingkungan sosial sangat memengaruhi dukungan yang diberikan kepada ibu dalam menyusui.Bagi tenaga kesehatan, pemberian edukasi menyusui bayi BBLR hendaknya lebih menekankan pada keberlanjutan praktik menyusui ketika di rumah dengan meningkatkan keterlibatan keluarga. Kemudian, diperlukan sebuah kebijakan berupa program tindak lanjut khusus untuk memantau perkembangan dan pertumbuhan bayi BBLR, khususnya selama periode ASI eksklusif. Bagi ibu dan keluarga, hendaknya mencari informasi menyusui yang benar dari tenaga kesehatan dan tidak menerapkan mitos menyusui pada ibu menyusui bayi BBLR.

Referensi:Chairiyah, M., Hapsari, E.D., Lismidiati, W. (2015). Tradisi dan Lingkungan Sosial Mengpengaruhi Dukukungan Menyusui pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah di Kota Malang. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 10 No 1. Diakses melalui: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=426132&val=7113&title=Tradisi%20dan%20Lingkungan%20Sosial%20Memengaruhi%20Dukungan%20Menyusui%20pada%20Bayi%20Berat%20Badan%20Lahir%20Rendah%20di%20Kota%20Malang



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    52.508