Ferry Efendi

Berbagi, Peduli dan Menginspirasi

TUGAS RESUME KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

09 February 2018 - dalam Tugas Kuliah Oleh ferry-efendi-fkp

Oleh: HERIKARTONI, S.Kep

NIM: 131623143043

1. Kegiatan Pokja Remaja

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Pada tahap ini remaja mengalami peningkatan kesadaran diri (self consciousness) terjadi juga perubahan secara fisik, kognitif, sosial, maupun emosional pada remaja sehingga remaja cenderung mengalami perubahan emosi kearah yang negatif menjadi mudah marah, tersinggung bahkan agresif. Perubahan-perubahan karakteristik pada masa remaja tersebut, ditambah dengan faktor-faktor eksternal seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan gangguan mental pada orang tua diprediksi menjadi penyebab timbulnya masalah- masalah remaja (Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007). Remaja juga merupakan kelompok umur yang rentan terkena masalah kesehatan, walaupun demikian remaja dalam masyarakat juga berperan penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Berdasarkan hasil survei Mahasiswa Keperawatan Universitas Airlangga di wilayah RT 01 dan RT 02 di RW VIII pada Tanggal 11-13 Desember 2017 di dapat jumlah remaja sebanyak 61 orang dari 307 anggota keluarga di RW VIII RT 03, RT 04, RT 05. Remaja yang bekerja sambil sekolah sebanyak 8 orang (34%). Pada kegiatan karang taruna, remaja yang aktif mengikuti sebanyak 14 orang (23%) sisanya tidak aktif mengikuti kegiatan tersebut yaitu sebanyak 19 orang (31%). Remaja yang merokok hanya 10 orang (16%). Namun data tersebut hanya didapat dari data door to door saja, pada saat pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion) tanggal 15 Desember 2017 dengan interview dari ketua karang taruna didapatkan banyak remaja yang putus sekolah karena faktor ekonomi, dari penuturan anggota karang taruna masih banyak perilaku berisiko remaja di RW VIII khususnya di RT 03, RT04 dan RT 05 yaitu merokok dan minum alkohol. Dan ada 19 anggota karang taruna yang masih aktif dari 61 remaja (12%). Kegiatan remaja diwaktu luang yaitu; kegiatan keagamaan (Remas), les dan nonton TV. Kegiatan Karang Taruna, antara lain mengelola sumbangan dana RT dan memberikan bimbingan belajar untuk adik-adik siswa SD dan SMP. Karang Taruna mengatakan perlu mendapatkan pengetahuan mengenai HIV/Aids. Remaja dalam Karang Taruna tidak mengetahui cara melakukan P3K dengan benar dan mengatakan belum pernah mendapatkan penyuluhan atau pelatihan.Komunikasi terus dilakukan secara intensif dengan pengurus Karang Taruna tentang data hasil temuan untuk menentukan kegiatan apa yang menjadi prioritas untukdilaksanakan. Pertimbangan dalam menentuan kegiatan yaitu; urgensi masalah, sarana dan prasarana yang mendukung, pembiayaan serta waktu karena seluruh pengurus Karang Taruna adalah mahasiswa yang masing-masing sibuk dengan aktivitas perkuliahan. Berdasarkan kesepakatan bersama, kegiatan yang akan dilakukan yaitu; penyuluhan dan sharing HIV/Aids yang rencananya dilakukan tanggal 23 Desember 2017 dan Pelatihan P3K yang rencananya dilaksankan tanggal 6 Januari 2018. Kegiatan pertama yang dilaksanakan yaitu Penyuluhan dan Sharing tentang HIV Aids dilaksanakan tanggal 23 Desember 2017. Pada kegiatan ini dimoderatori oleh Rihmaningtyas, materi penyuluhan disampaikan oleh Heri Kartoni dan Sharing oleh Doni yang merupakan aktivis peduli HIV/Aids. Pada kesempatan ini juga dilakukan pemutaran video film pendek mengenai HIV/Aids untuk memperkuat penerimaan materi oleh para remaja. Kegiatan ini dihadiri oleh 7 orang remaja dan Ketua RT 01. Kegiatan kedua yaitu pelatiha P3K batal dilaksanakan sesuai rencana tanggal 6 Januari 2018 disebabkan pengurus Karang Taruna yang mengorganisisr para remaja berhalangan. Akhirnya kegiatan dilaksanakan tanggal 12 Januari 2018 dengan sasaran anak remajan diatas usia 10 tahun di TPA Mesjid Al-Munawaroh sebanyak 15 orang. Kegiatan pokja remaja dapat dilaksanakan semua sesuai rencana meskipun terdapat beberapa kendala namun masih bisa ditanggulangi. Dari kegiatan yang telah dilaksanakan kami menyimpulkan bahwa remaja di RT 01 dan 02 masih sangat perlu mendapatkan bimbingan dan dorongan untuk lebih aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan, baik oleh mahasiswa ataupun kegiatan lain yang lebih bermanfaat untuk menunjang kebutuhan dalam meningkatkan derajad hidup sehat.

Sumber:Hasil Pengkajian awal FGD 4-7 Desember 2017

2. Konsep Komunitas

Komunitas adalah sekelompok manusia serta hubungan yang ada di dalamnya sebagaimana yang berkembang dan digunakan dalam suatu agen, institusi serta lingkungan fisik yang lazim (Widagdo, 2016).Fungsi komunitas (Widagdo, 2016):

a. Produksi, distribusi dan konsumsi

b. Sosialisasi

c. Kontrol sosial

d. Partisipasi

e. Dukungan bersama

Keperawatan komunitas adalah suatu bentuk pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan terutama pada kelompok risiko tinggi untuk meningkatkan status kesehatan komunitas dengan menekankan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta tidak mengabaikan kuratif dan rehabilitatif (Widagdo, 2016). Prioritas Pembangunan Kesehatan Indonesia tahun 2015-2019 (Kemenkes, 2016):

1. Upaya kesehatan

a. Peningkatan kesehatan ibu dan anak

b. Pengendalian kematian bayi dan balita

2. Gizi masyarakat

3. Penyakit menular

4. Penyakit tidak menular

5. Kesehatan jiwa

Indikator Pencapaian Perkesmas:

Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari 6, yaitu

a. Indikator kinerja klinik

Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas, yaitu:

1) Indikator input

- Presenatasi perawat koordinator (D3 Keperawatan)

- Presentasi penanggungjawab daerah binaan/desa punya PHN kit

- Presentasi Puskesmas memiliki pedoman/standar

- Tersedia dana operasional untuk pembinaan

- Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan

- Tersedia dukungan administrasi (buku register, family folder, formulir laporan, dll)

2) Indikator proses

- Perentasi keluarga awam mempunyai family folder

- Maping (peta)sasaran Perkesmas

- Rencana kegiatan Perkesmas (POA)

- Bukti pembagian tugas perawat

- Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain

- Catatan keperawatan- Kegiatan refleksi diskusi kasus- Hasil pemantauan dan evaluasi

3) Indikator output

- Persentasi keluarga awam

- Persentasi keluarga selesai dibina

- Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care)

- Perentasi kelompok dibina

- Persentasi daerah binaan di suatu wilayah

4) Indikator hasil (outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM), masing-masing mempunyai 4 kriteria sebagai berikut:

- Menerima petugas Puskesmas

- Menerima pelaayanan kesehaatan sesuai rencana

- Menyatakan masalah secara benar

- Memanfaatkan saran kesehatan sesuai anjuran

- Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif

- Melaksanakan tindakan promotif secara aktif

b. Indikator kinerja fungsional

Indikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pecapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator kliniknya (output)

Sumber:Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta : Kemenkes RI.Widagdo. 2016. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta : PPSDM Kesehatan.

3. Konsep Keperawatan Keluarga

Menurut Bailon dalam Efendi dan Mahfudli (2009), keluarga adalah dua atau lebih individu yang tergabung dalam hubungan darah, perkawinana dan adopsi dalam satu rumah tangga berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan serta mempertahankan suatu budaya. Menurut Bailon dan Maglaya (1998) dalam Efendi dan Mahfudli (2009), tugas keluarga dibidang kesehatan, yaitu:

a. Mengenal masalah ksehatan keluarga.

b. Membuat keputusan tindakan yang tepat.

c. Memberi perawatan pada keluarga yang sakit.

d. Memodifiasi lingkungan keluarga atau menciptakan suasana rumah yang sehat.

e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan bagi keluarga.

Pendekatan Keluarga adalah salah satu cara untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses layanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas dengan mendatangi keluarga. Pendekatan keluarga yang dimaksud merupakan pengembangan dari kunjungan rumah oleh Puskesmas dan perluasan dari upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas). Indikator penanda status kesehatan keluarga, yaitu:

a. Keluarga mengikuti program keluarga berencana.

b. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan.

c. Bayi mendapatkan imunisaasi dasar lengkap.

d. Bayi mendapat ASI eksklusif.

e. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan.

f. Penderita TB Paru mendapatkan pengobatan sesuai standar.

g. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur.

h. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan.

i. Anggota keluarga tidak ada yang merokok.

j. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

k. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih.

l. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat.

Sumber:Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta : Kemenkes RI.Efendi, F., Mahfudli. (2009). Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.Mubarak, W.I., Chayatin (2009). Ilmu Kesehatan Masyarakat Teori dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.

4. Artikel Keperawatan Kesehatan Komunitas

Judul artikel: Peran Kepemimpinan, Modal Sosial, Akses Informasi serta Petugas dan Fasilitator Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan Indonesia berulang kali masuk kategori negara yang lamban langkahnya dalam mencapai MDGs. Pencapaian MDGs belum mengikutsertakan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakt. Masalah pemberdayaan masyarakat adalah lemahnya kemampuan mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan. Pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi sehingga dapat meningkatkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Model pemberdayaan masyarakat meliputi partisipasi, kepemimpinan, keterampilan, sumber daya, nilai-nilai, sejarah, jaringan, dan pengetahuan masyarakat. Faktor internal komunitas yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan adalah kepemimpinan dan modal sosial. Sedangkan faktor eksternal komunitas yang berperan adalah akses informasi, peran petugas dan fasilitator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran kepemimpinan, modal sosial, akses informasi, peran petugas dan fasilitator kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga.Peran petugas kesehatan menurut Kementerian Kesehatan adalah aktif dalam pengembangan dan penyelenggaraan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) di Desa Siaga (poskesdes, posyandu, dan lainlain), menggerakkan masyarakat untuk mengelola, menyelenggarakan, dan memanfaatkan UKBM yang ada serta menyelenggarakan sosialisasi program kesehatan untuk menciptakan Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis peran kepemimpinan, modal sosial, akses informasi, peran petugas dan fasilitator kesehatan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga. Desain penelitian adalah penelitian kualitatif melalui metode studi kasus Penelitian dilakukan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan mengambil dua desa yaitu Desa Bulus di Kecamatan Bandung sebagai representasi Desa Siaga Utama dan Desa Tanggul Kundung di Kecamatan Besuki sebagai representasi Desa Siaga Pratama. Penelitian dilakukan selama tiga bulan dari Juli 2013 sampai dengan September 2013. Populasi penelitian adalahsituasi sosial dalam program Desa Siaga di Desa Bulus, Kecamatan Bandung dan Desa Tanggul Kundung, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive dan snowball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi partisipasi, dan kajian dokumen. Alat bantu yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah pedoman wawancara mendalam, perekam, alat tulis, dan kamera. Jumlah informan kunci seluruhnya adalah 56 orang yang terdiri dari dua kategori, yaitu kelompok komunitas meliputi kepala desa dan perangkatnya, Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), ketua atau anggota tim penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tingkat desa serta kader Desa Siaga. Masing-masing desa sebanyak 15 orang sehingga terdapat 30 informan. Kategori kedua adalah kelompok petugas kesehatan meliputi tim pembina Desa Siaga puskesmas sejumlah 18 informan dan tim pembina Desa Siaga dinas kesehatan kabupaten sejumlah enam informan.Hasil observasi partisipasi di dua poskesdes dan dimasyarakat menyimpulkan bahwa poskesdes dikelola oleh tenaga kesehatan, yaitu bidan dan perawat. Poskesdes berperan sebagai UKBM yang dibentuk di desa dalam rangka mendekatkan pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan poskesdes mencakup upaya pelayanan kesehatan dasar secara menyeluruh secara promotif, preventif dan kuratif, termasuk pengamatan dan kewaspadaan dini, penanganan hal yang bersifat gawat darurat, dan kesiapsiagaan terhadap bencana. Pengunjung poskesdes adalah ibu hamil, bayi, anak balita, perempuan usia subur, usia lanjut, dan masyarakat lainnya. Pelayanan dilaksanakan baik di dalam maupun di luar gedung.Berdasarkan observasi, tampak bahwa kepemimpinan dan modal sosial berperan dalam keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui gotong-royong masyarakat, adanya organisasi kelompok yasinan, pertemuan rukun tetangga (RT), dan pertemuan forum Desa Siaga sebagai media komunikasi dan kerja sama antara warga dengan pemimpin desa dan petugas kesehatan.Dari studi kasus terungkap bahwa peran kepemimpinanan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga adalah menyebarluaskan informasi, memberikan contoh dan sebagai panutan, menyadarkan, memotivasi, membimbing, menggerakkan sasaran dan masyarakat, memfasilitasi dan mengalokasikan sumber daya.Modal sosial menurut Lynch et al, merupakan kemampuan sosial yang lebih luas menyangkut inklusivitas, hak asasi manusia, keadilan sosial, partisipasi ekonomi danpolitik secara penuh dari warga masyarakat sehingga investasi modal sosial merupakan strategi yang berguna untuk kesehatan masyarakat. Peran modal sosial dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan meliputi adanya saling percaya antarkeluarga dan masyarakat, kerja sama antara warga masyarakat, pimpinan dan petugas kesehatan, saling tolong-menolong, norma sosial timbal-balik, hubungan kekerabatan, pertetanggaan dan pertemanan serta adanya jaringan organisasi masyarakat.Berbagai jenis informasi berperan dalam peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Masyarakat memahami cara-cara melakukan identifikasi dan pemecahan masalah kesehatan. Akses informasi akan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan kesehatan, baik pada tingkat individu maupun pada kelompok masyarakat. Sebagian besar informan mengatakan bahwa akses informasi kesehatan berperan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan kesehatan, mengambil keputusan kesehatan, dan meminta pelayanan kesehatan.Petugas kesehatan berperan dalam melakukan pendekatan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat agar mereka menjadi sadar terhadap permasalahan yang dihadapi di desanya, bangkit niat dan tekad untuk mencari solusi serta memantau, membina pelaksanaan survei mawas diri dan musyawarah masyarakat desa sebagai media untuk mengidentifikasi masalah kesehatan dan merumuskan pemecahan masalah kesehatan, juga melakukan pendampingan yang berperan sebagai fasilitator. Beberapa informan menyampaikan bahwa peran petugas kesehatan adalah melakukan sosialisasi, memberikan petunjuk, melatih, membina, memfasilitasi, menumbuh-kembangkan partisipasi serta memantau dan mengevaluasi program Desa Siaga.Fasilitator menciptakan suasana dialogis dengan masyarakat dan mampu menumbuhkembangkan, menggerakkan, serta memelihara partisipasi masyarakat dalam program pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan, mulai dari perencanaan sampai dengan evaluasi hasil kegiatan. Sebagian besar informan menjelaskan bahwa peran fasiltator program Desa Siaga adalah melakukan sosialisasi, pendampingan, motivator, pengarah, mediator antara masyarakat dengan pemerintah, memengaruhi pengambilan keputusan, dan menumbuh-kembangkan partisipasi.Kesimpulan pada penelitian ini, yaitu Peran kepemimpinan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan pada program Desa Siaga adalah menyebarluaskan informasi, memberikan contoh, penyadaran, memotivasi, membimbing, menggerakkan sasaran dan masyarakat, memfasilitasi dan mengalokasikan sumber daya. Sementara itu,peran modal sosial adalah saling percaya, kekerabatan, pertetanggaan dan pertemanan, norma sosial, kerjasama, tolong-menolong, dan adanya jaringan masyarakat. Peran akses informasi kesehatan adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kesehatan, mengambil keputusan kesehatan, dan meminta pelayanan kesehatan. Peran petugas kesehatan adalah melakukan sosialisasi, memberikan petunjuk, melatih, membina, memfasilitasi, menumbuhkembangkan partisipasi, serta memantau dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. Kemudian peran fasilitator kesehatan adalah melakukan sosialisasi, pendampingan, motivator, mediator antara masyarakat dan pemerintah, memengaruhi pengambilan keputusan dan menumbuhkembangkan partisipasi.Berdasarkan temuan penelitian, disarankan untuk memperkuat peran kepemimpinan dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan, yaitu peran penyebarluasan informasi, pemberian contoh, penyadaran, pemberian motivasi, pembimbingan, penggerakkan sasaran dan masyarakat, fasilitasi dan pengalokasian sumber daya. Selain itu, memperkuat peran modal sosial, yaitu saling percaya, kekerabatan, pertetanggaan dan pertemanan norma sosial, kerja sama, tolong-menolong, serta adanya jaringan masyarakat. Memperkuat peran akses informasi kesehatan, yaitu peningkatan pengetahuan dan keterampilan kesehatan, pengambilan keputusan kesehatan dan meminta pelayanan kesehatan. Memperkuat peran petugas kesehatan, yaitu melakukan sosialisasi, memberikan petunjuk, melatih, membina, memfasilitasi, menumbuh-kembangkan partisipasi serta memantau dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat. Selain itu, disarankan untuk memperkuat peran fasilitator dengan melakukan sosialisasi, pendampingan, motivator, mediator antara masyarakat dan pemerintah, memengaruhi pengambilan keputusan, dan menumbuhkembangkan partisipasi.

Referensi:Sulaeman, E.S., Murti, B., Waryana. 2015. Peran Kepemimpinan, Modal Sosial, Akses Informasi serta Petugas dan Fasiltator Kesehatan dalam Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 9 N0. 4. Diakses melalui: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=426071&val=7113&title=Peran%20Kepemimpinan,%20Modal%20Sosial,%20Akses%20Informasi%20serta%20Petugas%20dan%20Fasilitator%20Kesehatan%20dalam%20Pemberdayaan%20Masyarakat%20Bidang%20Kesehatan



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    55.613