Ferry Efendi

Berbagi, Peduli dan Menginspirasi

TUGAS RESUME KEPERAWATAN KOMUNITAS DAN KELUARGA

09 February 2018 - dalam Tugas Kuliah Oleh ferry-efendi-fkp

Oleh: NINIK DWI PURWENI, S.Kep

NIM: 131623143020

1. Resume Kegiatan Pokja Kesehatan Lingkungan

Kesehatan ibu dan anak (KIA) merupakan salah satu indikator penilaian SDG’s (Suistanable Development Goals) untuk status kesehatan. (Effendi & Makhfudli, 2009). Dalam menjaga kesehatan ibu dan anak diperlukan peran serta masyarakat, petugas kesehatan, dan kader kesehatan yang bertugas di tiap tempat binaan. Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Ners (P3N) angkatan B18 kelompok 4 gelombang II telah melaksanakan profesi ners stase Keperawatan Komunitas di wilayah Medokan Semampir RW VIII pada tanggal 4 Desember 2017 hingga 20 Januari 2018. Dalam program profesi ners tersebut, salah satu program utama yang dilaksanakan adalah program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Program yang telah berjalan yaitu penyuluhan dan skrining penyakit difteri, penyuluhan kanker serviks dan sosialisasi IVA, penyuluhan gizi balita dan demonstrasi pembuatan nuget tahu sehat untuk anak. Kegiatan yang pertama adalah penyuluhan dan skrining penyakit difteri. Hal ini dilaksanakan karena merebaknya kasus penyakit difteri di Indonesia dan masih banyak ibu yang belum mengetahui tentang penyakit difteri. Penyuluhan dan skrining dilaksanakan hari Selasa, 19 Desember 2017 di Posyandu Teratai II saat posyandu balita berlangsung. Dalam kegiatan ini tampak ibu-ibu antusias bertanya tentang tanda gejala penyakit dan hasil skrining menunjukkan tidak ada balita di RT 01 dan 02 terindikasi difteri. Kegiatan kedua adalah penyuluhan kanker serviks dan sosialisasi IVA yang dilaksanakan tanggal 25 Desember 2017 dan 6 Januari 2018 di rumah salah satu warga. Kegiatan selanjutnya yaitu penyuluhan pentingnya gizi seimbang untuk balita dan demonstrasi pembuatan nuget tahu sehat. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu Mawar RT 01 tanggal 9 Januari 2018 diikuti oleh ibu-ibu peserta posyandu balita.Hambatan dalam kegiatan ini antara lain waktu mulai yang tidak tepat. Solusi dari hambatan kegiatan adalah koordinasi dengan warga dan kader mengenai waktu pelaksanaan. Harapan dari pokja KIA adalah meningkatnya kesadaran warga dalam deteksi dini penyakit dan perlunya gizi seimbang untuk balita.

Sumber:Hasil Pengkajian awal FGD 4-7 Desember 2017

2. Jelaskan konsep komunitasKomunitas adalah sekelompok manusia serta hubungan yang ada di dalamnya sebagaimana yang berkembang dan digunakan dalam suatu agen, institusi serta lingkungan fisik yang lazim (Widagdo, 2016).

Fungsi komunitas (Widagdo, 2016):

1. Produksi, distribusi dan konsumsi

2. Sosialisasi

3. Kontrol sosial

4. Partisipasi

5. Dukungan bersama

Keperawatan komunitas adalah suatu bentuk pelayanan profesional berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang ditujukan terutama pada kelompok risiko tinggi untuk meningkatkan status kesehatan komunitas dengan menekankan upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit serta tidak mengabaikan kuratif dan rehabilitatif (Widagdo, 2016).

Prioritas Pembangunan Kesehatan Indonesia tahun 2015-2019 (Kemenkes, 2016):

1. Upaya kesehatan

a. Peningkatan kesehatan ibu dan anak

b. Pengendalian kematian bayi dan balita

2. Gizi masyarakat

3. Penyakit menular

4. Penyakit tidak menular

5. Kesehatan jiwa

Indikator Pencapaian Perkesmas:

Indikator keberhasilan kinerja Perkesmas terdiri dari 6, yaitu

a. Indikator kinerja klinik

Ada 4 indikator dalam menilai keberhasilan kinerja klinik Perkesmas, yaitu:

1) Indikator input

- Presenatasi perawat koordinator (D3 Keperawatan)

- Presentasi penanggungjawab daerah binaan/desa punya PHN kit

- Presentasi Puskesmas memiliki pedoman/standar

- Tersedia dana operasional untuk pembinaan

- Tersedia standar/pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan

- Tersedia dukungan administrasi (buku register, family folder, formulir laporan, dll)

2) Indikator proses

- Perentasi keluarga awam mempunyai family folder

- Maping (peta)sasaran Perkesmas- Rencana kegiatan Perkesmas (POA)

- Bukti pembagian tugas perawat- Ada kegiatan koordinasi dengan petugas kesehatan lain

- Catatan keperawatan

- Kegiatan refleksi diskusi kasus

- Hasil pemantauan dan evaluasi

3) Indikator output

- Persentasi keluarga awam

- Persentasi keluarga selesai dibina

- Persentasi penderita (prioritas SPM) dilakukan tindak lanjut keperawatan (follow up care)

- Perentasi kelompok dibina

- Persentasi daerah binaan di suatu wilayah

4) Indikator hasil (outcome) yang ingin dicapai adalah terbentuknya keluarga mandiri dalam memenuhi kesehatannya/mengatasi masalah kesehatannya yang terdiri dari 4 tingkatan keluarga mandiri (KM), masing-masing mempunyai 4 kriteria sebagai berikut:

- Menerima petugas Puskesmas

- Menerima pelaayanan kesehaatan sesuai rencana

- Menyatakan masalah secara benar

- Memanfaatkan saran kesehatan sesuai anjuran

- Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif

- Melaksanakan tindakan promotif secara aktif

b. Indikator kinerja fungsionalIndikator kinerja fungsional yaitu indikator kinerja perawat Puskesmas untuk mengukur pecapaian angka kredit jabatan fungsionalnya yaitu jumlah angka kredit yang dicapai sama dengan jumlah kegiatan perawat dalam mencapai indikator kliniknya (output)

Sumber:Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.Jakarta : Kemenkes RI.Widagdo. 2016. Keperawatan Keluarga dan Komunitas. Jakarta : PPSDMKesehatan. Depkes, RI. 1993. Petunjuk Pengelolaan Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta Depkes, RI. 1996. Pedoman Pemantauan Penilaian Program Perawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta

3. Jelaskan konsep keluargaKeluarga adalah orang yang mempunyai hubungan resmi seperti ikatan darah, adopsi, perkawinan atau perwalian, hubungan sosial (hidup bersama) dan adanya hubungan psikologi (ikatan emosional) (Hanson, 2001 dalam Doane & Varcoe, 2005).

Fungsi keluarga menurut Friedman (1998 dalam Efendi, Ferry & Makhfudli, 2009) :

1. Fungsi Afektif

2. Fungsi sosialisasi dan penempatan sosial

3. Fungsi reproduksi

4. Fungsi ekonomi

5. Fungsi perawatan kesehatan:

a. Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan keluarga

b. Kemampuan keluarga membuat keputusan yang tepat bagi keluarga

c. Kemampuan keluarga merawat keluarga yang sakit

d. Kemampuan keluarga memciptakan lingkungan sehat

e. Kemampuan keluarga mengakses fasilitas kesehatan

Keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik yang menempatkan keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Kemenkes, 2016).

Indikator utama penanda status kesehatan keluarga berdasarkan Program Indonesia Sehat (Kemenkes, 2016):

1. Keluarga mengikuti program Keluarga Berencana (KB)

2. Ibu melakukan persalinan di fasilitas kesehatan

3. Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap

4. Bayi mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif

5. Balita mendapatkan pemantauan pertumbuhan

6. Penderita tuberkulosis paru mendapatkan pengobatan sesuai standar

7. Penderita hipertensi melakukan pengobatan secara teratur

8. Penderita gangguan jiwa mendapatkan pengobatan dan tidak ditelantarkan

9. Anggota keluarga tidak ada yang merokok

10. Keluarga sudah menjadi anggota Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

11. Keluarga mempunyai akses sarana air bersih12. Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat

Sumber :Doane, G. H., & Varcoe, C. (2005). Family Nursing as Relational Inquiry:Developing Health Promoting Practice. Philadelphia: Lippincott : USA.Ferry Effendi & Makhfudl. 2009. Keperawatan Komunitas : Teori dan Praktek dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.Kemenkes RI. 2016. Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga. Jakarta : Kemenkes RI.

4. Jurnal Keperawatan Komunitas

Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV-AIDS. Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan Human Imunnodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Indonesia adalah masih tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Stigma berasal dari pikiran seorang individu atau masyarakat yang memercayai bahwa penyakit AIDS merupakan akibat dari perilaku amoral yang tidak dapatditerima oleh masyarakat. Stigma terhadap ODHA tergambar dalam sikap sinis, perasaan ketakutan yangberlebihan, dan pengalaman negatif terhadap ODHA. Banyak yang beranggapan bahwa orang yang terinfeksi HIV/AIDS layak mendapatkan hukuman akibat perbuatannya sendiri. Mereka juga beranggapan bahwa ODHA adalah orang yang bertanggung jawab terhadap penularan HIV/AIDS (Shaluhiyah dkk, 2015).Penelitian yang dilakukan oleh Shaluhiyah dkk (2015) tentang Stigma Masyarakat terhadap orang dengan HIV-AIDS bertujuan untuk mengidentifikasi stigma masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan faktor yang memengaruhinya. Penelitian dilakukan dengan sampel berjumlah 300 kepala keluarga yang dipilih menggunakan sampel acak proporsional pada tiga kelurahan dengan kasus HIV tertinggi selama Agustus - September 2014 di Kabupaten Grobogan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur. Separuh responden masih memberikan stigma terhadap ODHA. Responden dengan keluarga yang memberikan stigma memiliki kemungkinan memberikan stigma terhadap ODHA empat kali lebih besar dibandingkan responden yang keluarganya tidak memberikan stigma. Demikian juga responden yang berpersepsi negatif terhadap ODHA memiliki kemungkinan memberikan stigma dua kali lebih besar dibandingkan yang berpersepsi positif. Faktor sikap tetangga dan tokoh masyarakat terhadap ODHA juga berhubungan signifikan dengan stigma responden terhadap ODHA.Kesimpulan dari penilitian ini adalah sikap keluarga dan persepsi responden terhadap ODHA merupakan faktor yang berpengaruh pada munculnya stigma terhadap ODHA. Hal ini dapat menjadi intervensi dalam keperawatan komunitas sebagai perawat pendidik untuk memberikan informasi yang tepat tentang HIV/AIDS yang lengkap kepada keluarga dan masyarakat untuk menurunkan atau menghilangkan stigma.Sumber :Haluhiyah, dkk. Stigma Masyarakat terhadap Orang dengan HIV-AIDS.

Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (Kesmas). Mei 2015. Vol 9 No. 4.



Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :   
   

Kategori

Artikel Terbaru

Artikel Terpopuler

Komentar Terbaru

Arsip

Blogroll

Pengunjung

    55.585